Categories

Lesson 6

Lesson 1

Blog Archive

Follower

Statistik

Get Gifs at CodemySpace.com
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Ilmu. Tampilkan semua postingan

SEJARAH FILSAFAT



Sejarah filsafat barangkali sepanjang sejarah manusia itu sendiri. Filsafat tidak bisa dipahami lepas dari sejarahnya. Filsafat muncul dan berkembang dalam historisitas. Sejarah filsafat merupakan panggung kontestasi filsafat yang darinya dinamika pengertian dan bisa jadi makna substantif filsafat pada akhirnya bisa garisbawahi.  Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengerti filsafat adalah dengan cara memahami dinamika maknanya dalam perkembangan sejarahnya. Tidak cukup mengetahui filsafat dari filosof, tetapi juga dari sejarah yang menjadi saksi dan sekaligus konteks bagi filsafat mementaskan dan juga menampakkan makna dirinya. Oleh karena itu pada bagian ini, disampaikan pengenalan awal tentang sejarah filsafat, kapan sebenarnya filsafat itu pertama kali muncul di planet biru ini, dan bagaimana mengerti secara filsafat dengan cara yang paling sederhana. Yang pertama akan dijelaskan dalam subjudul penyoalan asal-usul filsafat dalam makna hakikinya, dan yang kedua diurai di bawah subjudul periodesasi sejarah filsafat sebagai pendekatan penyederhanaan pemahaman sejarah filsafat.
A.    Persoalan Asal-Usul Filsafat

KETERKAITAN ANTARA FILSAFAT, ILMU DAN KEBENARAN



Dari uraian diatas dapat kita lihat bahwa filsafat berkembang demikian luas sejak jaman Yunani kuno sampai dengan jaman modern ini. Pada intinya setiap orang yang berfilsafat berupaya untuk menemukan kebenaran yang hakiki. Untuk menemukan kebenaran ternyata sangat relatif sekali, yaitu tergantung kapasitas ilmu yang dimiliki oleh orang tersebut.
Adapaun persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan filsafat adalah bahwa keduanya menggunakan berfikir reflektif dalam upaya menghadapi/memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan, terhadap hal-hal tersebut baik filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berfikiran terbuka serta sangat konsern pada kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan yang terorganisisr dan sistematis.

PERMASALAHAN FILSAFAT :



1.      Persoalan Filsafat
Ada enam persoalan yang selalu menjadi bahan perhatian para filsuf dan  memerlukan jawaban secara radikal, dimana tiap-tiapnya menjadi salah satu cabang dari filsafat yaitu : ada, pengetahuan, metode, penyimpulan, moralitas, dan keindahan.
a.       Tentang ”Ada”
Persoalan tentang ”äda” ( being ) menghasilkan cabang filsafat metafisika; dimana sebagai salah satu cabang filsafat metafisika sendiri mencakup persoalan ontologis, kosmologi ( perkembangan alam semesta ) dan antropologis ( perkembangan sosial budaya manusia ). Ketiga hal tersebut memiliki titik sentral kajian tersendiri.
b.      Tentang ”Pengetahuan” ( knowledge )
Persoalan tentang pengetahuan ( knowledge ) menghasilkan cabang filsafat epistemologi ( filsafat pengetahuan ). Istilah epistemologi sendiri berasal dari kata episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan dan logos berarti teori. Jadi, epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan.

Mencari Kebenaran



Penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran di mana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenaran masing-masing.
a)      Definisi Penalaran
Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa, dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuannya itu. Dia mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Secara terus menerus dia selalu hidup dalam pilihan.
Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan ini sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya.  Manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi kebutuhan-kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dan memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidupnya, namun lebih dari pada itu. Manusia mengembangkan kebudayaan; memberi makna bagi kehidupan; manusia ‘memanusiakan” diri dalam dalam hidupnya. Intinya adalah manusia di dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya. Inilah yang membuat manusia mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan ini mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan oleh dua hal utama;
·         Bahasa; manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut.

KEHIDUPAN DAN ALAM



         Manusia yang berfungsi daya nalarnya (akalnya) selain mengenali dirinya sendiri, ia sudah dapat mengenal lingkungannya. Orang-orang yang ada di sekitarnya, demikian pula benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang dapat ia lihat dan rasakan, semua itu membentuk dalam benaknya konsep "alam" dan "kehidupan". Konsep ini berkembang menuju suatu kesempurnaan melalui ajaran kepercayaan atau agama yang dianut masyarakatnya terutama orang tuanya, dan melalui pendidikan dan penga¬jaran yang diterimanya kemudian.
         Dewasa ini pengetahuan manusia tentang "alam" sudah sangat luas, dan ilmu serta teknologi sudah sedemikian majunya, seakan-akan manusia sudah mampu menguasai alam raya dengan keberhasilannya menerobos angkasa luar dan memecahkan atom, seandainya tiada gempa bumi hebat yang mengguncang Armenia, angin taufan dahsyat yang menyapu pantai-pantai Amerika dan Jepang, banjir-banjir besar yang melanda Anak Benua India, dan lain-lain bencana alam dan penyakit-penyakit aneh seperti AIDS yang semua itu mempertunjukkan kelemahan kekuasaan dan keterbatasan pengetahuan manusia itu. Sejauh perkem¬bangan yang sudah begitu majunya, kehidupan manusia tetap saja menjadi masalah misterius seperti sediakala.

ILMU DAN KEHIDUPAN



Lahirnya dan berkembangnya Ilmu Pengetahuan telah banyak membawa perubahan dalam kehidupan manusia, terlebih lagi dengan makin intensnya penerapan Ilmu dalam bentuk Teknologi yang telah menjadikan manusia lebih mampu memahami berbagai gejala serta mengatur Kehidupan secara lebih efektif dan efisien. Hal itu berarti bahwa ilmu mempunyai dampak yang besar bagi kehidupan manusia, dan ini tidak terlepas dari fungsi dan tujuan ilmu itu sendiri

Kerlinger dalam melihat fungsi ilmu, terlebih dahulu mengelompokan dua sudut pandang tentang ilmu yaitu pandangan statis dan pandangan dinamis. Dalam pandangan statis, ilmu merupakan aktivitas yang memberi sumbangan bagi sistimatisasi informasi bagi dunia, tugas ilmuwan  adalah menemukan fakta baru dan menambahkannya pada kumpulan informasi yang sudah ada, oleh karena itu ilmu dianggap sebagai sekumpulan fakta, serta merupakan suatu cara menjelaskan gejala-gejala yang diobservasi,  berarti bahwa dalam pandangan ini penekanannya terletak pada keadaan pengetahuan/ilmu yang ada sekarang serta upaya penambahannya baik hukum, prinsip ataupun teori-teori.  Dalam pandangan ini, fungsi ilmu lebih bersifat praktis yakni sebagai disiplin atau aktivitas untuk memperbaiki sesuatu, membuat kemajuan, mempelajari fakta serta memajukan pengetahuan untuk memperbaiki sesuatu (bidang-bidang kehidupan).

Bidang Kajian Dan Masalah-Masalah Dalam Filsafat Ilmu


1
            Bidang kajian filsafat ilmu ruang lingkupnya terus mengalami perkembangan, hal ini tidak terlepas dengan interaksi antara filsafat dan ilmu yang makin intens. Bidang kajian yang menjadi telaahan filsafat ilmu pun berkembang dan diantara para akhli terlihat perbedaan dalam menentukan lingkup kajian filsafat ilmu, meskipun bidang kajian iduknya cenderung sama, sedang perbedaan lebih terlihat dalam perincian topik telaahan. Berikut ini beberapa pendapat akhli tentang lingkup kajian filsafat ilmu :
1.      Edward Madden menyatakan bahwa lingkup filsafat ilmu adalah:
a.       Probabilitas
b.      Induksi
c.       Hipotesis
2.      Ernest Nagel

Pengertian Filsafat Ilmu



            Dilihat dari segi katanya filsafat ilmu dapat dimaknai sebagai filsafat yang berkaitan dengan atau tentang ilmu. Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat pengetahuan secara umum, ini dikarenakan ilmu itu sendiri merupakan suatu bentuk pengetahuan dengan karakteristik khusus, namun demikian untuk memahami secara lebih khusus apa yang dimaksud dengan filsafat ilmu, maka diperlukan pembatasan yang dapat menggambarkan dan memberi makna khusus tentang istilah tersebut.
            Para akhli telah banyak mengemukakan definisi/pengertian filsafat ilmu dengan sudut pandangnya masing-masing, dan setiap sudut pandang tersebut amat penting guna pemahaman yang komprehensif tentang makna filsafat ilmu, berikut ini akan  dikemukakan beberapa definisi filsafat ilmu :
·         The philosophy of science is a part of philosophy which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience (Peter Caws)

Hubungan Filsafat Dengan Ilmu


1.      
Meskipun secara historis antara ilmu dan filsafat pernah merupakan suatu kesatuan, namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, dimana dominasi ilmu lebih kuat mempengaruhi pemikiran manusia, kondisi ini mendorong pada upaya untuk memposisikan ke duanya secara tepat sesuai dengan batas wilayahnya masing-masing, bukan untuk mengisolasinya melainkan untuk lebih jernih melihat hubungan keduanya dalam konteks lebih memahami khazanah intelektuan manusia
Harold H. Titus mengakui kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan ringkas mengenai hubungan antara ilmu dan filsafat, karena terdapat persamaan sekaligus perbedaan antara ilmu dan filsafat, disamping dikalangan ilmuwan sendiri terdapat perbedaan pandangan dalam hal sifat dan keterbatasan ilmu, dimikian juga dikalangan filsuf terdapat perbedaan pandangan dalam memberikan makna dan tugas filsafat.

Pembagian/Pengelompokan Ilmu


1.      
Semakin lama pengetahuan manusia semakin berkembang, demikian juga pemikiran manusia semakin tersebar dalam berbagai bidang kehidupan, hal ini telah mendorong para akhli untuk mengklasifikasikan ilmu ke dalam beberapa kelompok dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri, namun seara umum pembagian ilmu lebih mengacu pada obyek formal dari ilmu itu sendiri, sedangkan jenis-jenis di dalam suatu kelompok mengacu pada obyek formalnya. Pada tahap awal perkembangannya ilmu terdiri dari dua bagian yaitu :
1.      trivium yang terdiri dari :
a.       gramatika, tata bahasa agar orang berbicara benar
b.      dialektika, agar orang berfikir logis
c.       retorika, agar orang berbicara indah
2.      quadrivium yang terdiri dari :
a.       aritmetika, ilmu hitung
b.      geometrika, ilmu ukur
c.       musika, ilmu musik
d.      astronomis, ilmu perbintangan

FILSAFAT DAN ILMU


1.      Pengertian Ilmu (Ilmu Pengetahuan)
Ilmu  adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu  dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
2.      Ciri-Ciri Ilmu (Ilmu Pengetahuan)
Secara umum dari pengertian ilmu dapat diketahui apa sebenarnya yang menjadi ciri dari ilmu, meskipun untuk tiap definisi memberikan titik berat yang berlainan. Menurut The Liang Gie secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
1.      Empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan)
2.      Sistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur)
3.      Objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi)
4.      Analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci)
5.      Verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya)

PEMIKIRAN DAN PRODUK FILSAFATI



1.      Sejarah Singkat Filsafat
Sejarah filsafat dapat diperiodisasi ke dalam empat periode (Sudarto. 1996)  yang dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004) yaitu :
a.       Tahap/masa Yunani kuno (Abad ke-6 S.M sampai akhir abad ke-3 S.M)
b.      Tahap/masa Abad Pertengahan (akhir abad ke-3 S.M sampai awal abad ke-15 Masehi)
c.       Tahap/masa Modern (akhir abad ke-15 M sampai abad ke-19 Masehi)
d.      Tahap/masa dewasa ini/filsafat kontemporer (abad ke-20 Masehi)
Sementara itu K. Bertens dalam bukunya Ringkasan Sejarah Filsafat (1976)  yang dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004) menyusun topik-topik pembahasannya sebagi berikut :
a.       Masa Purba Yunani
b.      Masa Patristik dan Abad pertengahan
c.       Masa Modern

Objek Filsafat



Pada dasarnya filsafat atau berfilsafat bukanlah sesuatu yang asing dan terlepas dari kehidupan sehari-hari, karena segala sesuatu yang ada dan yang mungkin serta dapat difikirkan bisa menjadi objek filsafat apabila selalu dipertanyakan, difikirkan secara radikal guna mencapai kebenaran.
Lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia. E.C. Ewing dalam bukunya Fundamental Questions of Philosophy (1962) yang dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004) menyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan pokok filsafat (secara tersirat menunjukan objek filsafat)  ialah : Truth (kebenaran), Matter (materi), Mind (pikiran), The Relation of matter and mind (hubungan antara materi dan pikiran), Space and Time (ruang dan waktu), Cause (sebab-sebab), Freedom (kebebasan), Monism versus Pluralism (serba tunggal lawan serba jamak), dan God (Tuhan)

Ciri-Ciri Filsafat



Bila dilihat dari aktivitasnya filsafat merupakan suatu cara berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu. Sementara itu Sidi Gazalba (1976) yang dikutip oleh oleh Uhar Suharsaputra (2004) menyatakan bahwa ciri ber-Filsafat atau berfikir Filsafat adalah : radikal, sistematik, dan universal. Radikal bermakna berfikir sampai ke akar-akarnya (Radix artinya akar), tidak tanggung-tanggung sampai dengan berbagai konsekwensinya dengan tidak terbelenggu oleh berbagai pemikiran yang sudah diterima umum, Sistematik artinya berfikir secara teratur dan logis dengan urutan-urutan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan, Universal artinya berfikir secara menyeluruh tidak pada bagian-bagian khusus yang sifatnya terbatas.
Sementara itu menurut Sudarto (1996) yang dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004) menyatakan bahwa  ciri-ciri berfikir Filsafat adalah :
a.       Metodis : menggunakan metode, cara, yang lazim digunakan oleh filsuf (ahli filsafat) dalam proses berfikir

Pengertian / arti Filsafat


A.    FILSAFAT

Filsafat , philosophy, dalam bahasa Inggeris, atau philosophya dalam Yunani mempunyai arti cinta akan kebijaksanaan. Philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi. Secara etimologi, filsafat berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan. Filsuf atau filosof berarti orang yang cinta akan kebijaksanaan. Kata “kebijaksanaan” dalam pengertian filsafat umumnya adalah “kebenaran sejati”. Sehingga filsafat diartikan sebagai suatu tindakan berpikir yang menggunakan akal budi untuk mencari dan menemukan kebenaran hakiki.
Dari pengertian tersebut filsafat sebenarnya amat dekat dengan realitas kehidupan kita. Untuk mengerti apa filsafat itu, orang perlu menggunakan akal budinya untuk merenungkan relaitas hidupnya, “apa itu hidup? Mengapa saya hidup? Akan kemana saya hidup? Tentunya pertanyaan tersebut sejatinya muncul alamiah bila akal budi kita dibiarkan bekerja. Persoalannya, apakah orang atau peminat filsafat sudah membiarkan akal budinya bekerja dengan baik memandang relaitas? Aristoteles menyebut manusia sebagai “binatang berpikir”.

Makalah Filsafat


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu, dan berfilsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengkoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.

Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak kita lahir sampai kita meninggal. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang pada diri kita sendiri, apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu?apakah ciri-ciri yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu?bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar?kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran ilmu?mengapa kita mesti mempelajari ilmu?dan seterusnya.

Pemecahan Masalah Melalui Filsafat Muslim


Keyakinan kepada adanya Tuhan harus didasarkan atas kesadaran akal, bukan sekedar kesadaran yang bersifat tradisional yakni melestarikan warisan nenek moyang betapapun corak dan konsepnya (Ahmad Azhar Basyir, 1993:13)
Agama dan Filsafat
Akal adalah potensi (luar biasa) yang dianugrahkan Allah kepada manusia, karena dengan akalnya manusia memperoleh pengetahuan tentang berbagai hal. Dengan akalnya manusia dapat membedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk, mana yang menyelamatkan mana yang menyesatkan, mengetahui rahasia hidup dan kehidupan dan seterusnya.
Oleh karena itu adalah pada tempatnya kalau agama dan ajaran Islam sebaik-baiknya dan seluas-luasnya.

Pengertian dan Pandangan Islam Mengenai Filsafat


Filsafat merupakan salah satu dari sekian banyak sistem-sitem Islam yang mempunyai pengaruh terhadap pola pikir dan tingkah laku umat Islam.
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab irad libmaid aguj gnay , ف ل س فة bahasa Yunani; Φιλοσοφία (philosophia). Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf". Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa "filsafat" adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Hal ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari

KETERKAITAN ANTARA FILSAFAT, ILMU DAN KEBENARAN


Dari uraian diatas dapat kita lihat bahwa filsafat berkembang demikian luas sejak jaman Yunani kuno sampai dengan jaman modern ini. Pada intinya setiap orang yang berfilsafat berupaya untuk menemukan kebenaran yang hakiki. Untuk menemukan kebenaran ternyata sangat relatif sekali, yaitu tergantung kapasitas ilmu yang dimiliki oleh orang tersebut.
Adapaun persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan filsafat adalah bahwa keduanya menggunakan berfikir reflektif dalam upaya menghadapi/memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan, terhadap hal-hal tersebut baik filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berfikiran terbuka serta sangat konsern pada kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan yang terorganisisr dan

Kebenaran Dalam Perspektif Filsafat Ilmu


Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik, ataupun yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya.
Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan