Categories

Lesson 6

Blog Archive

Follower

Statistik

Teori Konsumsi Dan Investasi


Teori Konsumsi

Pengeluaran konsumsi terdiri dari konsumsi pemerintah (government consumption) dan konsumsi rumah tangga (household consumption/private consumption). Factor-faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga, antara lain :

  1. Faktor Ekonomi
Empat faktor yang menentukan tingkat konsumsi, yaitu :
v                 Pendapatan Rumah Tangga ( Household Income )
Pendapatan rumah tangga amat besar pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi. Biasanya makin baik tingkat pendapatan, tongkat konsumsi makin tinggi. Karena ketika tingkat pendapatan meningkat, kemampuan rumah tangga untuk membeli aneka kebutuhan konsumsi menjadi semakin besar atau mungkin juga pola hidup menjadi semakin konsumtif, setidak-tidaknya semakin menuntut kualitas yang baik.
v                 Kekayaan Rumah Tangga ( Household Wealth )
Tercakup dalam pengertian kekayaaan rumah tangga adalah kekayaan rill (rumah, tanah, dan mobil) dan financial (deposito berjangka, saham, dan surat-surat berharga). Kekayaan tersebut dapat meningkatkan konsumsi, karena menambah pendapatan disposable.
v                 Tingkat Bunga ( Interest Rate )
Tingkat bunga yang tinggi dapat mengurangi keinginan konsumsi. Dengan tingkat bunga yang tinggi, maka biaya ekonomi (opportunity cost) dari kegiatan konsumsi akan semakin maha. Bagi mereka yang ingin mengonsumsi dengan berutang dahulu, misalnya dengan meminjam dari bankatau menggunakan kartu kredit, biaya bunga semakin mahal, sehingga lebih baik menunda/mengurangi konsumsi.
v                 Perkiraan Tentang Masa Depan (Household Expectation About The Future)
Faktor-faktor internal yang dipergunakan untuk memperkirakan prospek masa depan rumah tangga antara lain pekerjaan, karier dan gaji yang menjanjikan, banyak anggota keluarga yang telah bekerja.
Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi antara lain kondisi perekonomian domestic dan internasional, jenis-jenis dan arah kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah.


  1. Faktor Demografi
v                 Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar pengeluaran konsumsi secara menyeluruh, walaupun pengeluaran rata-rata per orang atau per keluarga relative rendah. Pengeluaran konsumsi suatu negara akan sangat besar, bila jumlah penduduk sangat banyak dan pendapatan per kapita sangat tinggi.
v                 Komposisi Penduduk
Pengaruh komposisi penduduk terhadap tingkat konsumsi, antara lain :
o          Makin banyak penduduk yang berusia kerja atua produktif (15-64
tahun), makin besar tingkat konsumsi. Sebab makin banyak penduduk
yang bekerja, penghasilan juga makin besar.
o       Makin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, tingkat konsumsinya juga
       makin tinggi, sebab pada saat seseorang atau suatu keluarga makin
       berpendidikan tinggi maka kebutuhan hidupnya makin banyak.
o       Makin banyak penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan (urban),
       pengeluaran konsumsi juga semakin tinggi. Sebab umumnya pola
       hidup masyarakat perkotaan lebih konsumtif disbanding masyarakat
       pedesaan.

  1. Faktor-faktor Non Ekonomi
Factor-faktor non-ekonomi yang paling berpengaruh  terhadap besarnya konsumsi adalah faktor social budaya masyarakat. Misalnya saja, berubahnya pola kebiasaan makan, perubahan etika dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih hebat/ideal.


Teori Keynes ( Keynesian Consumption Model )

a.         Hubungan Pendapatan Diposable dan Konsumsi
         Keynes menjelaskan bahwa konsumsi saat ini (current consumption) sangat dipengaruhi oleh pendapatan diposabel saat ini (current diposable income). Jika pendapatan disposabel meningkat, maka konsumsi juga akan meningkat. Hanya saja peningkatan konsumsi tersebut tidak sebesar peningkatan pendapatan diposabel.

C = Co + bYd             Ket :  C   =  konsumsi
                                              Co =  konsumsi otonomus
                                              b    =  marginal propensity to consume (MPC)
                                              Yd =  pendapatan diposable
                                               0 < b < 1

b.            Kecenderungan Mengonsumsi Marjinal
                Kecenderungan mengonsumsi marjinal (Marginal Propensity to 
   Consume, disingkat MPC) adalah konsep yang memberikan gambaran tentang
   berapa konsumsi akan bertambah bila pendapatan disposabel bertambah satu
   unit.

MPC   =       C
                    Yd
0 < MPC < 1

c.             Kecenderungan Mengonsumsi Rata-Rata
                Kecenderungan mengonsumsi rata-rata (Average Propensity to
    Consum, disingkat APC) adalah rasio antara konsumsi total dengan
    pendapatan disposabel total.

APC    =      C
                   Yd
Karena besarnya MPC < 1, maka APC < 1


d.            Hubungan Konsumsi dan Tabungan
                Pendapatan disposabel yang diterima rumah tangga sebagian besar
    digunakan untuk konsums, sedangkan sisanya ditabung. Kita juga dapat
    mengatakan setiap tambahan penghasilan disposabel akan dialokasikan untuk
    menambah konsumsi dan tabungan. Besarnya tambahan pendapatan
    disposabel  yang menjadi tambahan tabungan disebut kecenderungan
    menabung marginal (Marginal Propensity to Save/MPS). Sedangkan rasio
    antara tingkat tabungan dengan pendapatan disposabel disebut kecenderungan
    menabung rata-rata (Avarage Propensity to Save/APS)
Rumus :   
Yd           =  C + S (saving)
MPS        =  1 – MPC
APS        =  1 – APC




Teori Investasi

    Investasi adalah keputusan menunda konsumsi sumber daya atau bagian penghasilan demi meningkatkan kemampuan, menambah/menciptakan nilai hidup (penghasilan dan kekayaan). Investasi bukan hanya dalam bentuk fisik, melainkan juga non fisik, terutama peningkatan kualitas sumber daya manusia.
    Dalam teori ekonomi makro yang dibahas adalah investasi fisik. Dengan pembatasan tersebut maka definisi investasi dapat lebih dipertajam sebagai pengeluaran-pengeluaran yang meningkatkan stok barang modal. Stok barang modal adalah jumlah barang modal dalam suatu perekonomian pada saat tertentu.

a.    Investasi Dalam Bentuk Barang Modal dan Bangunan
           Yang tercakup dalam investasi barang modal dan bangunan adalah pengeluaran-pengeluaran untuk pembelian pabrik, mesin, peralatan produksi, bangunan/gedung yang baru. Karena daya tahan madal dan bangunan umumnya lebih dari setahun, seringkali investasi ini disebut sebagai investasi dalam bentuk harta tetap (fixed investment).
   Di Indonesia, istilah yang setara dengan fixed investment adalah pembentukan modal tetap domestic bruto (PMTDB). Supaya lebih akurat, jumlah investasi yang perlu diperhatikan adalah investasi bersih yaitu PMTDB dikurangi penyusutan.

b.  Investasi Persediaan
               Perusahaan seringkali memproduksi barang lebih banyak daripada target penjualan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Tentu saja investasi persediaan diharapkan meningkatkan penghasilan/keuntungan. Persediaan barang tersebut dikatakan sebagai investasi yang direncanakan atau investasi yang diinginkan karena telah direncanakan. Selain barang jadi, investasi dapat juga dilakukuan dalam bentuk persediaan barang baku dan setengah jadi.


Nilai Waktu dari Uang
              1.       Nilai Sekarang ( Present Value )
Nilai nominal dari sejumlah mata uang belum tentu akan lebih berharga dimasa datang. Hal ini sangat tergantung dari tingkat pengembalian investasi yang diinginkan.

V  =    X                     Ket :  V  =  Nilai yang akan datang
        (1+r)                             X  =  Nilai sekarang
                                              t   =  Waktu
                                              r   =  Faktor diskonto

2.   Nilai Masa Mendatang ( Future Value )
      Menghintung nilai masa mendatang adalah kebalikan dari menghitung nilai
      sekarang dari output investasi yang direncanakan. Sekalipun melihat dari
      sudut pandang yang bertolak belakang, keputusan yang dihasilkan tetap sama.

F  =  A (1+r)          Ket :  F  =  Nilai masa mendatang yang diharapkan
                                       A  =  Investasi awal
                                        t   =  Waktu

Kriteria Investasi

a.    Payback Period
      Payback period adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika waktu yang dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik. Kendatipun demikian, kita harus berhati-hati menafsirkan kriteria payback period ini. Sebab ada investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang (> 5 tahun).

b.   Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio)
      B/C ratio mengukur mana yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibanding hasil (output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan dengan C (cost). Output yang dihasilkan dinotasikan dengan B (benefit). Keputusan menerima atau menolak proposal investasi dapat dilakukan dengan melihat nilai B/C. Umumnya, proposal investasi baru diterima jika B/C > 1, sebab berarti output yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.

c.    Net Present Value (NPV)
      Perhitungan dengan menggunakan nilai nominal dapat menyesatkan, sebab tidak memperhitungkan nilai waktu dari uang. Untuk membuat hasil lebih akurat, maka nilai sekarang didiskontokan. Keuntungan dari menggunakan metode diskonto adalah kita dapat langsung menghitung selisih nilai sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih. Selisih inilah yang disebut net present value. Suatu proposal investasi akan diterima jika NPV > 0, sebab nilai sekarang dari penerimaan total lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya total.

d.   Internal Rate of Return (IRR)
      Internal rate of return adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihitung pada saat NPV sama dengan nol. Keputusan menerima/menolak rencana investasi dilakukan berdasarkan hasil perbandingan IRR dengan tingkat pengembalian investasi yang diinginkan (r).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Investasi

a.    Tingkat Pengembalian yang Diharapkan (Expected Rate of Return)

              1.    Kondisi Internal Perusahaan
  Kondisi internal adalah faktor-faktor yang berada di bawah kontrol
  Perusahaan, seperti tingkat efisiensi, kualitas SDM  dan teknologi. Sedangkan
  faktor non-teknis, seperti kepemilikkan hak dan atau kekuatan monopoli,
  kedekatan denga pusat kekuasaan, dan penguasaan jalur informasi.

              2.    Kondisi Eksternal Perusahaan
  Kondisi eksternal yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan
  akan investasi utama adalah perkiraan tentang tingkat produksi dan
  pertumbuhan ekonomi domestic maupun internasional.

b.   Biaya Investasi
      Hal yangpaling menentukan adalah tingkat bunga pinjaman. Makin tinggi tingkat bunganya maka biaya investasi makin mahal. Akibatnya minat akan investasi makin menurun. Namun tidak jarang, walaupun tingkat bunga pinjaman rendah, minat akan investasi tetap rendah. Hal ini disebabkan biaya total investasi masih tinggi dan faktor yang mempengaruhi adalah masalah kelembagaan.

c.    Marginal Efficiency of Capital (MEC), Tingkat Bunga, dan Marginal
      Efficiency of  Investement (MEI)

                               1.  Marginal Efficiency of Capital (MEC), Investasi, dan Tingkat Bunga
MEC adalah tingkat pengembalian yang diharapkan dari setiap tambahan barang modal.

                               2.  Marginal Effeciency of Capital (MEC) dan Marginal Efficiency of Investment (MEI
Category: 0 komentar

0 komentar:

Poskan Komentar