Categories

Lesson 6

Blog Archive

Follower

Statistik

PENGERTIAN WAHABI


Orang-orang biasa menuduh "wahabi " kepada setiap orang yang melanggar tradisi,
kepercayaan dan bid'ah mereka, sekalipun keperca-yaan-kepercayaan mereka itu
rusak, bertentangan dengan Al-Qur'anul Karim dan hadits-hadits shahih . Mereka
menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo'a (memohon) hanya kepada
Allah SWT semata.
Suatu kali, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas
yang terdapat dalam kitab Al-Arba'in An-Nawa-wiyah. Hadits itu berbunyi:
"Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah SWT, dan jika engkau
meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah SWT." (HR.
At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih )
Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi ketika beliau
mengatakan, "Kemudian jika kebutuhan yang dimintanya –menurut tradisi– di luar
batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan
dari sakit dan kesehatan maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah
SWT semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat
tercela."
Lalu kepada syaikh tersebut penulis katakan, "Hadits ini berikut keterangannya
menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah SWT." Ia

lalu menyergah, "Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!"
Penulis lalu bertanya, "Apa dalil anda?" Syaikh itu ternyata marah sambil berkata
dengan suara tinggi, "Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa'd!" dan Aku
bertanya padanya, "Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa'd dapat memberi manfaat
kepadamu?" Ia menjawab, "Aku berdo'a (meminta) kepadanya, sehingga ia
menyampaikannya kepada Allah SWT, lalu Allah SWT menyembuhkanku."
Lalu penulis berkata, "Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak
habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan,
engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu."
Ia lalu berkata, "Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu
datang dengan membawa kitab-kitab wahabi."
Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi kecuali sekedar
penulis dengar dari para syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, "Orang-orang
wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka
tidak percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai
Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya."
JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT JILID I
Page 2 of 5
Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan
Allah SWT semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah SWT, maka
aku wajib mengenal wahabi lebih jauh."
Kemudian penulis tanyakan jama'ahnya, sehingga penulis mendapat informasi
bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk
mengkaji pelajaran tafsir, hadits dan fiqih.
Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi
majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti,
sampai tiada berapa lama seorang syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau
memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari
sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak seorang pun berdiri untuknya.
Penulis berkata dalam hati, "Ini adalah seorang syaikh yang tawadhu' (rendah hati),
tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati)."
Lalu syaikh membuka pelajaran dengan ucapan,
"Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah SWT. Kepada Allah SWT kami
memuji, memohon pertolongan dan ampunan…", dan selanjutnya hingga selesai,
sebagaimana Rasulullah SAW biasa membuka khut-bah dan pelajarannya.
Kemudian syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau
menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya dan
para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi SAW, beliau mengucapkan
shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya.
Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Qur'anul Karim dan
sunnah Nabi SAW saw. Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap
penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah SWT bahwa
kita termasuk orang-orang Islam dan salaf. Sebagian orang menuduh kita
orang-orang wahabi . Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil
dengan panggilan-panggilan yang buruk). Allah SWT melarang kita dari hal
itu dengan firmanNya,
"Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk."
(Al-Hujurat: 11)
Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi'i dengan rafidhah. Beliau lalu
membantah mereka dengan mengatakan, "Jika rafidah (berarti) mencintai keluarga
Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya
aku adalah rafidhah."
Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan
salah seorang penyair, "Jika pengikut Ahmad adalah wahabi. Maka aku berikrar
bahwa sesungguhnya aku wahabi."
Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami
benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku
mendengar salah seorang mere ka berkata, "Inilah syaikh yang sesungguhnya!"
JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT JILID I
Page 3 of 5
A. PENGERTIAN WAHABI
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang
mengesakan Allah SWT), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika
mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya
yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah SWT menghendaki nama
wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah
satu dari nama-nama Allah SWT yang paling baik (Asmaa'ul Husnaa).
Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama'ah yang memakai shuf (kain wol)
maka sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab
(Yang Maha Pemberi), yaitu Allah SWT yang memberi-kan tauhid dan
meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.
B. MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Beliau dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur'an
sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali,
belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota
Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak
setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negerinegeri
lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid'ah.
Demikian juga soal menyucikan dan mengkultus-kan kubur, suatu hal yang
bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.
Ia mendengar banyak wanita di negerinya ber-tawassul dengan pohon kurma yang
besar. Mereka berkata, "Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku
menginginkan suami sebelum setahun ini."
Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi SAW (ahlul
bait), serta kuburan Rasulullah SAW, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan
kecuali hanya kepada Allah SWT semata.
Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah
SAW, serta berdo'a (memohon) kepada selain Allah SWT, hal yang sungguh
bertentangan dengan Al-Qur'an dan sabda Rasulullah SAW. Al-Qur'an
menegaskan:
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan
tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah SWT, sebab jika kamu
berbuat (yang demikian) itu, sesungguh-nya kamu kalau begitu termasuk
orang-orang yang zhalim." (Yunus: 106)
Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah SAW berkata kepada anak
pamannya, Abdullah bin Abbas:
"Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah SWT, dan jika eng-kau
meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah SWT." (HR. At-
Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan
berdo'a (memohon) kepada Allah SWT semata, sebab Dialah Yang
JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT JILID I
Page 4 of 5
Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah
dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun
mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti
amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara
manusia dengan Allah SWT, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat
bermohon selain daripada Allah SWT.
1. Penentangan orang-orang batil terhadapnya:
Para ahli bid'ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh
tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Bahkan mereka merasa heran
terhadap dakwah kepada tauhid. Allah SWT berfirman:
"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja?
Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan."
(Shaad: 5)
Musuh- musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan
menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka
bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus
dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah SWT menjaganya dan memberinya
penolong, sehingga dakwah tauhid tersebar luas di Hejaz, dan di negaranegara
Islam lainnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia
yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka
mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah
pembuat madzhab yang kelima, padahal dia adalah seorang penganut
madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang
wahabi tidak mencintai Rasulullah SAW serta tidak bershalawat
atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.
Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah
menulis kitab "Mukhtashar Siiratur Rasuul ". Kitab ini bukti sejarah
atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada
Rasulullah SAW . Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta
tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang
karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.
Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan
penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur'an, hadits
dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.
Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis,
bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-
pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari
hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama
pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum
dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang
dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.
2. Dalam sebuah hadits disebutkan:
"Ya Allah SWT, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri
JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT JILID I
Page 5 of 5
Yaman. Mereka berkata, 'Dan di negeri Nejed.' Rasu-lullah berkata, 'Di sana
banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat)
munculnya para pengikut setan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud
Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan
banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali
radhiallaahu anhu dibunuh.
Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud
dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya
fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan seba-liknya, yang tampak di
Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah SWT menciptakan alam,
dan karenanya pula Allah SWT mengutus para rasul.
3. Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan:
Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah se-orang mujaddid
(pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang
beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah
Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang "Silsilah Tokoh-tokoh
Sejarah", di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan
Ahmad bin 'Irfan.
Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan
negeri-negeri lainnya melalui jama'ah haji dari kaum muslimin yang
terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang
menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh- musuh Islam
memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan(kompeni Inggris)
karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan
umat Islam dalam melawan mereka.
Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah agar
mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun
menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata
wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid'ah,
sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar
umat manusia berdo'a hanya semata-mata kepada Allah SWT. Orang-orang
bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-
Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah SWT
yang paling baik (Asma'ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan
menjanjikannya masuk Surga.

0 komentar:

Posting Komentar