Categories

Lesson 6

Blog Archive

Follower

Statistik

Sejarah Anarkisme


Revolusi Spanyol
Revolusi Spanyol 1936 awalnya merupakan respon terhadap kup militer yang dilakukan oleh Jenderal Franco selama perang saudara Spanyol. Respon yang diberikan di Catalonia dan Aragon, daerah-daerah dimana anarkis berbasis kuat, merupakan hasil dari aksi langsung (direct action) dan demokrasi langsung yang diterapkan dalam gerakan buruh Spanyol. Hampir dua pertiga dari seluruh wilayah yang dikontrol oleh kekuatan anti fasis diambil alih.
Tanah-tanah dikolektifkan dan bengkel-bengkel lokal didirikan untuk memproduksi alat-alat dan furnitur, dan lain-lain. Kolektifisasi dilakukan secara voluntaristik dan bukan dengan pemaksaan seperti yang telah terjadi dalam Stalinisme Rusia. Produksi dan juga distribusi mengalami perubahan akibat revolusi. Toko-toko kolektif didirikan dan menjadi tempat pendistribusian barang-barang. Federasi- federasi kolektif juga terbangun, terutama yang paling sukses di Aragon. Sedangkan dalam sektor industri, di Barselona, sekitar 3000 perushaan dikolektifkan. Semua perusahaan publik, di seluruh wilayah yang dikuasai anti fasis diambil alih dan dikelola oleh komite-komite pekerja.


Perang Saudara Spanyol, 1820-1823.

Prajurit Republik Spanyol yang tertembak dalam perang.
Tanggal 1936 - 1939
Lokasi Spanyol
Hasil Kemenangan kaum Nasionalis

Pihak yang terlibat :
Republik Spanyol Kedua
Relawan asing
Uni Soviet
milisi CNT
milisi UGT
milisi POUM
Spanyol Nasionalis
Italia Fasis
Jerman Nazi
Relawan asing
Falangis
CarlisKomandan
Manuel Azaña
Francisco Largo Caballero
Juan Negrín
Francisco Franco
Emilio Mola
Perang Saudara Spanyol, yang berlangsung dari 17 Juli 1936 hingga 1 April 1939, adalah konflik antara kaum Nasionalis yang dipimpin oleh Jenderal Francisco Franco yang mengalahkan kaum Loyalis yang dipimpin oleh Presiden Manuel Azaña dari Republik Spanyol Kedua. Kaum Loyalis mendapatkan senjata dan relawan dari Uni Soviet dan gerakan Komunis internasional, sementara kaum Nasionalis (atau Francois) didukung oleh negara-negara Fasis, termasuk Italia dan Jerman. Kaum Republikan terdiri atas kaum sentris (tengah) yang mendukung demokrasi liberal kapitalis hingga komunis dan kaum revolusioner anarkis. Basis kekuatan mereka terutama adalah sekular dan urban (meskipun juga termasuk kaum buruh tani yang tidak memiliki tanah) dan khususnya kuat di wilayah-wilayah industri seperti Asturias dan Catalunya. Negeri Basque yang konservatif juga memihak dengan Republik, terutama karena ia, bersama-sama dengan tetangganya Catalunya, berusaha mendapatkan otonomi dari pemerintahan pusat yang belakangan ditindas dengan menciptakan sentralisasi terhadap kaum nasionalis. Kaum Francois umumnya memiliki basis dukungan di pedesaan, masyarakat yang kaya dan konservatif. Pada umumnya mereka Katolik Roma, dan mendukung sentralisasi kekuasaan. Sebagian dari taktik-taktik militer dalam perang ini - termasuk penggunaan taktik-taktik teror terhadap kaum sipil - mendahului apa yang kelak terjadi dalam Perang Dunia II, meskipun baik kaum Nasionalis maupun Republikan sangat mengandalkan pasukan infantri ketimbang menggunakan taktik-taktik modern seperti blitzkrieg (serangan kilat) dengan tank dan pesawat-pesawat terbang.
Sementara perang itu berlangsung hanya sekitar tiga tahun, situasi politiknya sudah penuh dengan kekerasan selama beberapa tahun sebelumnya. Jumlah korbannya dipertikaikan. Perkiraan umum menyebutkan antara 300.000 hingga 1 juta orang terbunuh. Banyak di antara para korban ini disebabkan oleh pembunuhan-pembunuhan massal yang dilakukan kedua belah pihak. Perang ini dimulai dengan pemberontakan militer di seluruh Spanyol dan koloni-koloninya, yang diikuti oleh pembalasan kaum Republikan terhadap Gereja, yang dipandang kaum Republikan radikal sebagai lembaga yang menindas yang mendukung orde lama.
Terjadi pembantaian terhadap rohaniwan-rohaniwati Katolik dan gereja-gereja. Biara-biara dibakar. Dua belas uskup, 283 biarawati, 2.365 biarawan dan 4.184 imam Katolik dibunuh.[1][2] Bekas pemilik tanah dan kaum industrialis juga diserang. Selama dan menjelang pecahnya perang, kaum Nasionalis melaksanakan program pembunuhan massal terhadap lawan-lawan mereka. Dilakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah, dan orang-orang yang tidak disukai seringkali dipenjarakan atau dibunuh. Para aktivis serikat buruh, yang dikenal sebagai simpatisan kaum Republikan dan yang sering mengkritik rezim Franco merupakan orang-orang pertama yang diincar. Kaum Nasionalis juga melakukan pengeboman udara terhadap wilayah-wilayah sipil dengan bantuan angkatan udara Jerman dan Italia. Kebrutalan biasa dilakukan oleh semua pihak.
Dampak perang ini sangat hebat: Dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk memulihkan kembali ekonomi Spanyol. Dampak politik dan emosional dari perang ini terus dirasakan jauh melampaui batas-batas negara Spanyol dan menyulut semangat kaum komunitas intelektual dan politik internasional, yang hingga kini masih ditemukan dalam politik Spanyol.
Para simpatisan Republikan menyatakannya sebagai perjuangan antara "tirani dan demokrasi", atau "fasisme dan kebebasan", dan banyak pembaharu muda dan kaum revolusioner yang mempunyai komitmen tinggi bergabung dengan Brigade Internasional, yang merasa bahwa menyelamatkan Republik Spanyol berada di garis depan peperangan melawan fasisme. Namun para pendukung Franco, khususnya anggota-anggota muda dari korps perwira, memandanganya sebagai pertempuran antara gerombolan merah komunisme dan anarkisme di satu pihak melawan "peradaban Kristen" di pihak lain.
====
Kerusuhan Haymarket
Peristiwa Kerusuhan Haymarket terjadi pada tanggal 4 Mei 1886 di Chicago, Illinois merupakan asal usul lahirnya perayaan Hari Buruh internasional atau biasa disebut May Day. Penyebab terjadinya insiden ini masih menyimpan kontroversi.

Aksi pemogokan menuntut 8 jam kerja dalam sehari
Pada April 1886, ratusan ribu kelas pekerja di AS yang berkeinginan kuat menghentikan dominasi kelas borjuis, bergabung dengan organisasi pekerja Knights of Labour. Perjuangan kelas masif menemukan momentum di Chicago, salah satu pusat pengorganisiran serikat-serikat pekerja AS yang cukup besar. Gerakan serikat pekerja di kota ini sangat dipengaruhi ide-ide International Workingsmen Association. Gerakan tersebut telah melakukan agitasi dan propaganda tanpa henti sebelum Mei untuk merealisasikan tuntutan "Delapan Jam Sehari".
Menjelang 1 Mei, sekitar 50.000 pekerja telah melakukan pemogokan. Sekitar 30.000 pekerja bergabung dengan mereka di kemudian hari. Para pekerja turun ke jalan bersama anak-anak serta istri untuk meneriakkan tuntutan universal 'Delapan Jam Sehari.' Pemogokan ini membawa aktivitas industri di Chicago lumpuh dan membuat kelas borjuis panik.
Pada tanggal 1 Mei 1886 (Kemudian dikenal sebagai May Day), saat itu sebanyak 350.000 orang buruh yang diorganisir oleh Federasi Buruh Amerika melakukan pemogokan di banyak tempat di Amerika Serikat.
Dua hari kemudian, 3 Mei, pemerintah mengutus sejumlah polisi untuk meredam pemogokan pekerja di pabrik McCormick. Polisi dengan membabi-buta menembaki pemogok yang berhamburan, pada saat kejadian ini terdapat empat orang tewas dan jauh lebih banyak lagi luka-luka. Ini menimbulkan amarah di kalangan kaum buruh, sebagian menganjurkan supaya mereka membalas dengan mengangkat senjata.
Sejumlah kaum anarkis yang dipimpin Albert Parsons dan August Spies, juga merupakan anggota aktif Knights of Labour, menyerukan kepada kelas pekerja agar mempersenjatai diri dan berpartisipasi di dalam demonstrasi keesokan hari.

Polisi menembaki para buruh Lapangan Haymarket
Pertemuan di hari berikut, 4 Mei 1886, berlokasi di bunderan lapangan Haymarket, para buruh kembali menggelar aksi mogoknya dengan skala yang lebih besar lagi, aksi ini jaga ditujukan sebagai bentuk protes tindakan represif polisi terhadap buruh. Semula aksi ini berjalan dengan damai.
Karena cuaca buruk banyak partisipan aksi membubarkan diri dan kerumunan tersisa sekitar ratusan orang. Pada saat itulah, 180 polisi datang dan menyuruh pertemuan dibubarkan. Ketika pembicara terakhir hendak turun mimbar, menuruti peringatan polisi tersebut, sebuah bom meledak di barisan polisi. Satu orang terbunuh dan melukai 70 orang diantaranya. Polisi menyikapi ledakan bom tersebut dengan menembaki kerumunan pekerja yang berkumpul, sehingga 200 orang terluka, dan banyak yang tewas.

Penangkapan
Meskipun tidak jelas siapa yang melakukan pelemparan bom, media massa dan politisi borjuis mulai melemparkan tuduhan-tuduhan bahwa ledakan tersebut merupakan ulah kaum sosialis dan anarkis. Mereka menyerukan 'sebuah balas dendam yang pantas kepada kaum radikal.' Setiap tempat pertemuan, sekretariat serikat pekerja, tempat cetak, serta rumah pribadi para aktifis diserang polisi. Setiap tokoh sosialis dan anarkis ditangkap. Bahkan individu-individu yang sama sekali tidak memahami apa itu sosialisme dan anarkisme, ditahan dan disiksa. Julius Grinnell, Jaksa Penuntut Umum kota tersebut, menyuruh kepolisian 'melakukan penyergapan terlebih dahulu baru kemudian mempertimbangkan pelanggaran-pelanggaran hukumnya'. Delapan dari tokoh anarkis yang aktif di Chicago, dituntut dengan tuduhan pembunuhan terencana. Mereka adalah August Spies, Albert Parsons, Adolph Fischer, George Engel, Fielden, Michael Schwab, Louis Lingg dan Oscar Neebe.

Pengadilan spektakuler kedelapan anarkis tersebut adalah salah satu sejarah buram lembaga peradilan AS yang sangat dipengaruhi kelas borjuis Chicago. Pada 21 Juni 1886, tanpa ada bukti-bukti kuat yang dapat mengasosiasikan kedelapan anarkis dengan insiden tersebut (dari kedelapan orang, hanya satu yang hadir. Dan Ia berada di mimbar pembicara ketika insiden terjadi), pengadilan menjatuhi hukuman mati kepada para tertuduh. Pada 11 November 1887, Albert Parsons, August Spies, Adolf Fischer, dan George Engel dihukum gantung. Louise Lingg menggantung dirinya di penjara.
Sekitar 250.000 orang berkerumun mengiringi prosesi pemakaman Albert Parsons sambil mengekspresikan kekecewaan terhadap praktik korup pengadilan AS. Kampanye-kampanye untuk membebaskan mereka yang masih berada di dalam tahanan, terus berlangsung. Pada Juni 1893, Gubernur Altgeld, yang membebaskan sisa tahanan peristiwa Haymarket, mengeluarkan pernyataan bahwa, "mereka yang telah dibebaskan, bukanlah karena mereka telah diampuni, melainkan karena mereka sama sekali tidak bersalah." Ia meneruskan klaim bahwa mereka yang telah dihukum gantung dan yang sekarang dibebaskan adalah korban dari 'hakim-hakim serta para juri yang disuap.' Tindakan ini mengakhiri karir politiknya.
Bagi kaum revolusioner dan aktifis gerakan pekerja saat itu, tragedi Haymarket bukanlah sekadar sebuah drama perjuangan tuntunan 'Delapan Jam Sehari', tetapi sebuah harapan untuk memerjuangkan dunia baru yang lebih baik. Pada Kongres Internasional Kedua di Paris, 1889, 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur pekerja. Penetapan untuk memperingati para martir Haymarket di mana bendera merah menjadi simbol setiap tumpah darah kelas pekerja yang berjuang demi hak-haknya.
Meskipun begitu, komitmen Internasional Kedua kepada tradisi May Day diwarisi dengan semangat berbeda. Kaum Sosial Demokrat Jerman, elemen yang cukup berpengaruh di Organisasi Internasional Kedua, mengirim jutaan pekerja untuk mati di medan perang demi 'Negara dan Bangsa.' Setelah dua Perang Dunia berlalu, May Day hanya menjadi tradisi usang, di mana serikat buruh dan partai Kiri memanfaatkan momentum tersebut demi kepentingan ideologis. Terutama di era Stalinis, di mana banyak dari organisasi anarkis dan gerakan pekerja radikal dibabat habis di bawah pemerintahan partai komunis. Hingga hari ini, tradisi May Day telah direduksi menjadi sekadar 'Hari Buruh', dan bukan lagi sebuah hari peringatan kelas pekerja atau proletar untuk menghapuskan kelas dan kapitalisme.

Para terdakwa
Monumen Haymarket
Delapan orang pemimpin buruh yang didakwa dan dijatuhi hukuman mati adalah :
August Spies, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung
Albert Parsons, warga A.S., tewas digantung
Adolph Fischer, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung
George Engel, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung
Louis Lingg, imigran berkebangsaan Jerman, bunuh diri dengan menggunakan dinamit saat berada didalam penjara
Michael Schwab imigran berkebangsaan Jerman, diberi keringanan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman kurungan penjara seumur hidup, kemudian diampuni pada tahun 1893
Samuel Fielden imigran berkebangsaan Inggris, diberi keringanan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman kurungan penjara seumur hidup, kemudian diampuni pada tahun 1893
Oscar Neebe warga A.S. keturunan Jerman, dihukum 15 tahun penjara kemudian diampuni pada tahun 1893.
=====
Komune Paris
Komune Paris (bahasa Perancis: La Commune de Paris) sebutan untuk pemerintahan kota Paris selama Revolusi Perancis. Istilah ini sudah biasa merujuk pada pemerintahan sosialis yang secara singkat memerintah kota Paris sejak tanggal 18 Maret (formalnya dimulai pada tanggal 26 Maret) sampai tanggal 28 Mei 1871.
Komune Paris merupakan pemerintahan pertama yang dikuasai oleh kelas buruh. Karl Marx melukiskannya sebagai "hasil perjuangan kaum produsen melawan kelas penghisap, sebuah bentuk politik yang akhirnya ditemukan yang dibawahnya kita dapat menjalankan emansipasi ekonomis kaum buruh."

Latar belakang
Tahun 1871 Perancis berperang melawan Prussia dan ternyata mengalami kekalahan. Kepala pemerintahan nasional, Adolphe Thiers, telah bernegosiasi detail tentang perdamaian dengan Prussia. Setelah melakukan semua ini, dia dihadapkan dengan masalah pengambil alihan kembali kontrol dari Paris, dan meyakinkan Paris bahwa perang dengan Prussia telah berakhir serta pembubaran tentara nasional. Thiers hanya tinggal mempunyai 12.000 pasukan setelah gencatan senjata melawan ribuan pasukan nasional. Pos keluar kota yang terbesar telah berpindah dari Bordeaux dimana tempat pertemuan untuk yang pertama kalinya diselenggarakan untuk pembersihan dari Prussia, ke Versailles, dekat Paris.
Orang-orang Prussia masih tetap menduduki Perancis utara, sebagai pembayaran dari ganti rugi yang telah disetujui Perancis untuk membayar kondisi damai. Untuk dapat membayar cicilan yang pertama dari ganti rugi itu, dan untuk keselamatan evakuasi dari Perancis utara oleh pasukan Prussia, pemerintah Perancis harus menaikkan pinjaman. Pinjaman hanya bisa dinaikkan dengan meningkatnya kepercayaan publik di dalam pemerintahan yang baru itu. Dalam kepemerintahan Thiers, masalahnya adalah perbaikan kepercayaan. Semua harus bermula dengan pemapanan ulang, pembukaan kembali toko-toko, pemulihan sistem bisnis, dan kehidupan yang kembali ke keadaan normal. Dengan semua yang telah disebutkan di atas, sejak Paris telah menjadi ibukota, maka Paris harus dapat diambil alih di bawah kontrol dari Pemerintah Nasional.
Paris bersikap tidak dapat menerima dan menentang kemenangan Prussia. Ini artinya Paris tidak puas dengan penyerahan pemerintahan ke tangan Prussia. Kemarahan patriotik Perancis mengalahkan ketidakmampuan kemarahan pemerintahan baru di Versailles. Pasukan nasional Paris tetap bersiaga, siap untuk menolak segala macam pemasukan dengan paksa dari para Prussia ke Paris. Meriam-meriam yang digunakan pengepungan kota Paris telah dibawa ke berbagai tempat di Paris. Akhirnya semua meriam itulah yang dibawa ke berbagai daerah, sehingga menjadi isu yang kritis. Seperti yang dikatakan oleh Thiers setelah itu, "...para orang-orang bisnis akan dengan konstan akan tetap mengulang bahwa pembenahan keuangan tak akan pernah berjalan lagi sampai semua keadaan buruk berhenti (selesai) dan meriam mereka telah dibawa pergi."

Revolusi
Terjadilah usaha pemerintah untuk merebut senjata dari para penjaga nasional pada hari sabtu dini hari, yang meninggalkan jejak bagi revolusi. Rencananya adalah dengan menduduki titik-titik strategis di kota, merebut persenjataan dan menangkap para revolusioner yang sudah dikenal.
Thiers sendiri bersama beberapa menterinya pergi ke Paris untuk mengawasi jalannya operasi. Pertama-tama semua operasi yang ada di Paris memang berjalan dengan lancar, tetapi kemudian orang-orang di sana mulai mengejek dan mencemooh para serdadu. Tentara-tentara nasional mulai berbalik, tidak lagi mendukung pemerintah, tapi juga tetap tidak tahu harus berbuat apa. Para tentara-tentara yang masih menunggu transportasi yang akan membawa senjata-senjata pergi, mulai mendapati diri mereka tak dihargai.
Peristiwa pertama terjadi di Montmartre, dimana para tentara menolak untuk menembak kerumunan massa dan berbalik menangkap komandan mereka, yang kemudian ditembak. Di lain tempat di pusat kota, para perwira menyadari bahwa mereka tidak dapat lagi mengandalkan anak buahnya, dan sebelum sore hari tiba Thiers telah memutuskan untuk meninggalkan ibukota. Pada saat menunggu itu, dia mengeluarkan perintah untuk menyelesaikan evakuasi para tentara ke Versailles dan memerintahkan kepada semua sisa menterinya untuk mengikuti dirinya. Kemunduran tentara ke Versailles itu sangat kacau. Para pasukan itu menjadikan para perwiranya tunduk kepada mereka dan tinggal hanya para polisi militer yang dapat memberi semacam perintah kepada mereka.
Jadi mereka dengan sangat terburu-buru menarik kembali beberapa resimen yang tertinggal di Paris (sekitar 20 ribu orang). Para perwira dijadikan tahanan, sementara sekitar 1.500 orang tertinggal tanpa perintah dan hanya duduk-duduk selama periode komune. Orang-orang yang duduk di pemerintahan meninggalkan kota.
Jam 11 tepat pada malam itu, komite pusat dari Tentara Nasional akhirnya dapat mengumpulkan anggotanya beserta cukup keberanian untuk mengambil alih Hôtel de Ville (balai kota) yang ditinggalkan, sementara komandan Tentara Nasional lainnya dan anak buahnya tetap tinggal di gedung-gedung umum di pusat kota.
Para Blanquist-lah yang akhirnya mengambil inisiatif saat Brunell membiarkan ketidaktegasan Bellevois (kepala komite Tentara Nasional) di Hôtel de Ville. Akhirnya saat komite pusat sampai di Hotel de Ville, terjadi kebingungan besar, para Tentara Nasional dan pasukannya berada di mana-mana tanpa ada yang punya kewenangan untuk memimpin. Revolusi ini secara spontan merebak ke pusat kota, tanpa tujuan jelas dari berbagai komite Tentara Nasional.
Komite Duval, Eudes, Brunel, dan semua komite Montmartre semuanya berbaris ke Versaille, namun para Blanguist tidak tergerak. Para pemberontak menemukan Paris terbuka untuk pengambil-alihan, tetapi kekhawatiran utama komite Pusat Tentara Nasional ialah 'melegalisasi' situasi dengan melepas kekuatan yang tidak disangka-sangka jatuh ke tangan mereka. Oleh karena itu untuk mengikuti pergerakan para pasukan dengan berbaris ke Versailles disaat para Blanquist terburu-buru mendorong Komite untuk melakukan negosiasi dengan satu-satunya badan konstitusi yang ada di kota --yaitu Mayor-- untuk mengatur pemungutan suara.
Seperti yang ditanyakan oleh seorang komunard (anggota komune) pada hari pemungutan suara, "Apa arti legalisasi saat terjadinya revolusi?" Hal ini membuat pengkajian kembali mengenai legalisasi yang selama ini memoderasi para revolusioner. Banyak anggota dari Komite Pusat merasa bahwa banyak kejadian yang telah memalukan mereka. Seperti yang dikatakan oleh salah satu dari mereka, "pada sore hari itu kami semua tidak tahu harus berbuat apa; kami tidak mau memiliki Hotel de Ville, yang kami mau hanyalah membentuk barikade. Kami merasa malu dengan kewenangan yang kami miliki." Tinggalah sastra Bohemian dari Edourard Moreau, untuk meyakinkan komite pusat ditengah-tengah teriakan "Hidup komune" agar mempertahankan pendudukan Hotel de Ville, paling tidak untuk beberapa hari hingga segala sesuatu yang berhubungan dengan pemungutan suara dapat terselenggara.

Pemungutan suara
Delapan hari kemudian pemungutan suara di Paris diadakan dengan 227.000 suara yang terhitung. Ini hanyalah setengah dari jumlah pendaftar yang mendaftar sebelum perang, semenjak terjadi pengurangan populasi besar-besaran. Eksodus ini berjalan untuk mengambil keuntungan dari 'area kelas pekerja' yang pada saat itu menjadi daerah yang sangat makmur yang masih ada. Juga dengan sistem representatif yang proporsional yang diadopsi oleh Komute Pusat yang memberikan lebih banyak representasi bagi distrik dimana banyak populasi kelas pekerja daripada sistem yang sebelumnya. Hasil menunjukkan kelebihan ada pada kelompok kiri, hanya sekitar 15-20 dari kaum republik moderat yang dipilih dimana mereka segera meletakkan jabatan.
Distrik kelas pekerja yang paling padat adalah distrik dimana para pro-komunard tinggal. Data dari para komite Vigilance, para pemungut suara di pemilihan umum sebulan hanya sedikit sekali yang berminat akan hal tersebut tetapi lalu menemukan bahwa diri mereka saat ini menjadi mayoritas. Hal ini bukan karena keterburu-buruan 'posisi sosialis revolusioner', tapi karena mayoritas kaum republik di Paris sekarang bersedia untuk memilih komune atas dasar sikap bertahan untuk melawan Thiers dan kaum monarkis National Assembly di Versailles. Di distrik kelas pekerja kemenangan menjadi sesuatu yang sangat berarti, sesuatu yang diharapkan akan dapat dilaksanakan dengan sangat serius dengan tidak mempedulikan pemerintah pada saat itu.
Secara formal, komune diterapkan di Hotel de Ville dua hari kemudian pada saat teriknya musim panas yang penuh kejayaan di hari Selasa tanggal 28 Maret. Batalyon Tentara Nasional berkumpul, nama-nama yang baru pilih akhirnya dibacakan, dengan mengenakan pakaian merah, mereka berbaris ke Hotel de Ville dengan kebanggaan yang mengerumuni dan menyingkirkan republik. Bendera merah dikibarkan tinggi-tinggi sejak mulai tanggal 18 Maret dan rentetan senjata dibunyikan menyambut Proklamasi Komune Paris.
=====
Mei 1968
Mei 1968 adalah nama yang diberikan pada serentetan protes dan pemogokan umum yang menyebabkan kejatuhan pemerintahan De Gaulle di Perancis. Mayoritas pemrotes merupakan pendukung isu-isu sayap kiri, namun institusi politik dan serikat pekerja kekirian yang telah ada menjauhkan mereka dari gerakan. Banyak yang memandang peristiwa tersebut sebagai kesempatan untuk menggoyahkan "masyarakat lama" pada berbagai aspek sosial dan moralitas tradisional, dan secara khusus berfokus pada sistem pendidikan dan ketenagakerjaan.
Peristiwa tersebut bermula sebagai serentetan pemogokan mahasiswa yang terjadi di beberapa universitas dan sekolah di Paris, menyusul konfrontasi dengan administrator universitas dan polisi. Pemerintahan De Gaulle berusaha untuk menghentikan pemogokan tersebut dengan menggunakan aksi-aksi dari polisi hanya membuat keadaan semakin panas, memantik pertempuran jalanan dengan polisi di Latin Quarter, diikuti oleh pemogokan umum oleh mahasiswa dan pemogokan di seluruh Perancis oleh sepuluh juta buruh Perancis, sekitar dua per tiga dari kekuatan kerja Perancis. Protes tersebut mencapai titik di mana De Gaulle membentuk sebuah markas operasi militer untuk mengatasi massa, membubarkan Dewan Nasional dan menyerukan pemilihan parlemen baru pada 23 Juni 1968.
Pemerintahan Perancis sudah begitu dekat pada kehancurannya pada saat itu (De Gaulle bahkan telah diungsikan untuk sementara ke sebuah markas angkatan udara di Jerman), namun situasi revolusioner menurun secepat seperti ketika situasi itu timbul. Para pekerja kembali ke pekerjaan mereka masing-masing, setelah serentetan kabar palsu disebarluaskan oleh Confédération Générale du Travail, federasi serikat kiri, dan Parti Communiste Français (PCF), Partai Komunis Perancis.
Mei '68 merupakan sebuah kesalahan politis bagi para pemrotes, tapi memiliki pengaruh sosial yang begitu besar. Di Perancis, Mei 1968 dianggap sebagai peristiwa pengalir yang menjadi saksi bagi pergantian moralitas konservatif (agama, patriotisme, menghormati otoritas) menjadi moralitas liberal (kesetaraan, kebebasan seksual, hak asasi manusia) yang mendominasi masyarakat Perancis saat ini. Meskipun pergantian ini tidak terjadi hanya pada satu bulan itu, istilah Mai 68 digunakan untuk merujuk pada pergantian nilai, khususnya ketika merujuk pada aspek paling idealistiknya.
Propaganda dengan perbuatan
Propaganda dengan perbuatan (atau propaganda aksi, b. Inggris: propaganda by the deed, b. Perancis: propagande par le fait) adalah sebuah konsep tradisional anarkis, yang berkembang diera akhir abad ke-19, yang mempromosikan tindakan kekerasan secara fisik melawan musuh-musuh politik dan dilakukan baik oleh individu maupun kelompok, sebagai cara untuk memberikan inspirasi terhadap massa dan mendorong terjadinya revolusi.
Tidak ada definisi tunggal mengenai propaganda dengan perbuatan. Propaganda dengan perbuatan dapat terdiri dari banyak bentuk, tetapi dalam kebanyakan kasus, penggunaan kekerasan melawan orang yang dipandang sebagai ancaman bagi kelas pekerja (seperti dalam kasus usaha pembunuhan Henry Clay Frick oleh Alexander Berkman).
Dalam beberapa fakta atas konsep "propaganda dengan perbuatan" ini, gerakan anarkis sering dicap sebagai kekerasan dan "teroris", diawali dengan beberapa pemboman dan pembunuhan di akhir era abad ke-19. Gambaran ini masih tetap melekat sampai saat ini pada setiap anarkis, meski telah banyak dalam pemikiran anarkis modern yang menyatakan bahwa konsep tersebut telah usang.

0 komentar:

Poskan Komentar