Categories

Lesson 6

Blog Archive

Follower

Statistik

Sastra, Sesuatu yang Agung*



Membaca secara mendalam keberagaman pengertian sastra yang tersuguh dalam lembaran foto copy yang diberikan sebagai tugas pemenuhan mata kulian Teori Sastra, terdapat sebuah gambaran dalam tempurung kepala saya. Dalam gambaran tersebut, muncul sebuah matrikulasi wilayah sastra, sesuai pelaku sastra, yang dalam makalah, disebut dengan kelompok masyarakat, sebagai berikut:
Masyarakat Pencipta                                         à   Teori Sastra
Masyarakat Pembaca dan Pengkritik             à Sejarah dan Kritik Sastra yang  
       menghasilkan teori
Maka dari itu, tidaklah dapat disisahkan ketiga peran kelompok masyarakat tersebut. Karena antara satu dan lainnya saling memberikan suplemen yang mampu menjadikan sastra sebagai sesuatu yang agung. Sedikit kemungkinan seorang pencipta dalam wilayah sastra menghasilkan karya yang sesuai dengan minat pembaca dan mood publik, tanpa menggunakan teori yang telah disepakati oleh para ahli. Walaupun tidak sedikit seorang pencipta bergerak bebas yang acuh dengan segala hal teori, dan akhirnya menawarkan sebuah teori baru sebagai bentuk kredo dalam karya-karyanya. Dan ini merupakan sebagian kecil dari keagungan ‘sastra’. Karena sejarah sastra menyebutkan, bahwa sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi. Bukan imitasi.

Banyaknya pengertian tentang ‘sastra’ dan ‘kesusastraan’, adalah makna sastra dengan sendirinya. Tidak menutup kemungkinan, seseorang akan terpuaskan dengan satu wilayah makna saja, akan tetapi tidak menjangkau sisi lain dari pemaknaan ‘sastra’. Coba kita ambil dari contoh pengertian yang pertama: Sastra berarti karangan yang baik dan indah. Nah, ‘baik’ dan ‘indah’ yang mana? Menurut siapa? Apakah semua karangan yang baik dan indah disebut sastra? Bukankah karya penulis di majalah-majalah porno juga ‘indah’ dan bahkan ‘baik’ bagi pembacanya?
Maka kemudian, perlulah kita menggunakan definisi lain untuk melengkapinya. Misalnya definisi yang menyebutkan: sastra adalah semua buku (karya) dengan perasaan mendalam dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keleluasaan dan bentuk yang mempesona. Dari kalimat ‘kebenaran moral dengan sentuhan kesucian’ maka jelaslah wilayah ‘baik’ dan ‘indah’ yang dimaksud pada pengertian yang pertama. Itulah mengapa saya menyimpulkan makalah yang diberikan oleh dosen mata kuliah ‘teori sastra’, bahwa sastra sebagai sesuatu yang agung.

0 komentar:

Posting Komentar