Categories

Lesson 6

Blog Archive

Follower

Statistik

STPDN, IPDN dan Paradigma Kekerasan dalam Pendidikan


Ada berita memilukan lagi yang datang dariIPDN, [beware : jangan diklik, still under construction :-) !] salah seorang prajanya, Cliff Muntu tewas dan ada indikasi kematiannya tidak wajar. Tidak kenal IPDN ? IPDN adalah Institut Perguruan Dalam Negeri, nama baru dari STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri). Nama baru tersebut dilekatkan setelah kejadian tewasnya praja STPDN setelah dianiaya oleh praja lainnya.

Yang menjadi pertanyaan, ini sekolah pendidikan untuk apa ? Jika lulusannya diproyeksikan untuk menjadi pejabat pemerintah (Lurah, Camat dan seterusnya), apa masyarakatnya tidak ngeri ? Coba lihat kutipan dari detik.com,
Keterangan Inu diperkuat keterangan dari seorang perawat. Perawat yang tidak mau disebutkan namanya itu menyebutkan hasil otopsi Cliff terdapat bekas penganiayaan. Jantung cliff menghitam, dada retak, dan terdapat bekas pukulan tinju di dada dan jantung.
Atau dari Gatra
Kapolres Sumedang AKBP Syamsul Bachri, yang ditemui di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Selasa mengatakan, Praja IPDN tersebut tewas setelah mendapat perawatan medis selama satu jam di RS Al-Islam Bandung, Selasa dinihari.

"Berdasarkan keterangan saksi pembina dan petugas keamanan IPDN, pada Senin (2/4) tengah malam korban menderita sejumlah luka pada bagian kepala dan bagian tubuh lainnya memar, tubuhnya terkapar di baraknya di Kesatrian IPDN di Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang," kata Syamsul.
Atau dari Kompas
Cliff Muntu (19), praja tingkat II Institut Pendidikan Dalam Negeri Jatinangor, Jawa Barat, tewas, Selasa (3/4) dini hari. Kematian mahasiswa asal Manado, Sulawesi Utara, itu dinilai tidak wajar dan mencurigakan. Indikasi itu terlihat dari adanya rencana penyerangan oleh praja tingkat II terhadap praja tingkat III yang dapat diredam petugas.

Jika benar Cliff tewas akibat penganiayaan, peristiwa ini menambah panjang daftar kasus kekerasan di lembaga pendidikan ilmu pemerintahan ini. Menurut catatan, sejak tahun 1990 hingga 2004 setidaknya terjadi 35 penganiayaan berat yang berakibat pada kematian. Sebagian kasus kekerasan terjadi antara praja senior terhadap yuniornya.

"Adanya rencana penyerangan itu berarti ada apa-apa," kata dosen IPDN, Inu Kencana Syafiie, di RS Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Selasa. Inu mendapat kabar adanya penyerangan bersamaan dengan kabar kematian Cliff, sekitar pukul 01.00 WIB, Selasa.
Mudah-mudahan berita penganiayaan ini tidak benar, karena andaikata terbukti benar, mau jadi apa negeri ini kalau sistem pendidikannya saja masih berbasis kekerasan ?

0 komentar:

Poskan Komentar