Categories

Lesson 6

Blog Archive

Follower

Statistik

Sejarah Nabi Muhammad SAW


Sumber Peradaban Pertama
PENYELIDIKAN mengenai sejarah peradaban manusia dan dari mana pula asal-usulnya,
sebenarnya masih ada hubungannya dengan zaman kita sekarang ini. Penyelidikan
demikian sudah lama menetapkan, bahwa sumber peradaban itu sejak lebih dari enam
ribu tahun yang lalu adalah Mesir. Zaman sebelum itu dimasukkan orang kedalam
kategori pra-sejarah. Oleh karena itu sukar sekali akan sampai kepada suatu
penemuan yang ilmiah. Sarjana-sarjana ahli purbakala (arkelogi) kini kembali
mengadakan penggalian-penggalian di Irak dan Suria dengan maksud mempelajari soalsoal
peradaban Asiria dan Funisia serta menentukan zaman permulaan daripada kedua
macam peradaban itu: adakah ia mendahului peradaban Mesir masa Firaun dan
sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa itu dan terpengaruh karenanya?

Apapun juga yang telah diperoleh sarjana-sarjana arkelogi dalam bidang sejarah
itu, samasekali tidak akan mengubah sesuatu dari kenyataan yang sebenarnya, yang
dalam penggalian benda-benda kuno Tiongkok dan Timur Jauh belum memperlihatkan
hasil yang berlawanan. Kenyataan ini ialah bahwa sumber peradaban pertama - baik
di Mesir, Funisia atau Asiria - ada hubungannya dengan Laut Tengah; dan bahwa
Mesir adalah pusat yang paling menonjol membawa peradaban pertama itu ke Yunani
atau Rumawi, dan bahwa peradaban dunia sekarang, masa hidup kita sekarang ini,
masih erat sekali hubungannya dengan peradaban pertama itu.
Apa yang pernah diperlihatkan oleh Timur Jauh dalam penyelidikam tentang sejarah
peradaban, tidak pernah memberi pengaruh yang jelas terhadap pengembangan
peradaban-peradaban Fira'un, Asiria atau Yunani, juga tidak pernah mengubah tujuan
dan perkembangan peradaban-peradaban tersebut. Hal ini baru terjadi sesudah ada
akulturasi dan saling-hubungan dengan peradaban Islam. Di sinilah proses saling
pengaruh-mempengaruhi itu terjadi, proses asimilasi yang sudah sedemikian rupa,
sehingga pengaruhnya terdapat pada peradaban dunia yang menjadi pegangan umat
manusia dewasa ini.
Laut Tengah dan Laut Merah
Peradaban-peradaban itu sudah begitu berkembang dan tersebar ke pantai-pantai Laut
Tengah atau di sekitarnya, di Mesir, di Asiria dan Yunani sejak ribuan tahun yang
lalu, yang sampai saat ini perkembangannya tetap dikagumi dunia: perkembangan
dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam bidang pertanian, perdagangan,
peperangan dan dalam segala bidang kegiatan manusia. Tetapi, semua peradaban itu,
sumber dan pertumbuhannya, selalu berasal dari agama. Memang benar bahwa sumber
itu berbeda-beda antara kepercayaan trinitas Mesir Purba yang tergambar dalam
Osiris, Isis dan Horus, yang memperlihatkan kesatuan dan penjelmaan hidup kembali
di negerinya serta hubungan kekalnya hidup dari bapa kepada anak, dan antara
paganisma Yunani dalam melukiskan kebenaran, kebaikan dan keindahan yang bersumber
dan tumbuh dari gejala-gejala alam berdasarkan pancaindera; demikian sesudah itu
timbul perbedaan-perbedaan yang dengan penggambaran semacam itu dalam pelbagai
zaman kemunduran itu telah mengantarkannya ke dalam kehidupan duniawi. Akan tetapi
sumber semua peradaban itu tetap membentuk perjalanan sejarah dunia, yang begitu
kuat pengaruhnya sampai saat kita sekarang ini, sekalipun peradaban demikian
hendak mencoba melepaskan diri dan melawan sumbernya sendiri itu dari zaman ke
zaman. Siapa tahu, hal yang serupa kelak akan hidup kembali.
Dalam lingkungan masyarakat ini, yang menyandarkan peradabannya sejak ribuan tahun
kepada sumber agama, dalam lingkungan itulah dilahirkan para rasul yang membawa
agama-agama yang kita kenal sampai saat ini. Di Mesir dilahirkan Musa, dan dalam
pangkuan Firaun ia dibesarkan dan diasuh, dan di tangan para pendeta dan pemukapemuka
agama kerajaan itu ia mengetahui keesaan Tuhan dan rahasia-rahasia alam.
Agama-agama Kristen dan Majusi
Setelah datang ijin Tuhan kepadanya supaya ia membimbing umat di tengah-tengah
Firaun yang berkata kepada rakyatnya: "Akulah tuhanmu yang tertinggi" iapun
berhadapan dengan Firaun sendiri dan tukang-tukang sihirnya, sehingga akhirnya
terpaksa ia bersama-sama orang-orang Israil yang lain pindah ke Palestina. Dan di
Palestina ini pula dilahirkan Isa, Ruh dan Firman Allah yang ditiupkan ke dalam
diri Mariam. Setelah Tuhan menarik kembali Isa putera Mariam, murid-muridnya
kemudian menyebarkan agama Nasrani yang dianjurkan Isa itu. Mereka dan pengikutpengikut
mereka mengalami bermacam-macam penganiayaan. Kemudian setelah dengan
kehendak Tuhan agama ini tersebar, datanglah Maharaja Rumawi yang menguasai dunia
ketika itu, membawa panji agama Nasrani. Seluruh Kerajaan Rumawi kini telah
menganut agama Isa. Tersebarlah agama ini di Mesir, di Syam (Suria-Libanon dan
Palestina) dan Yunani, dan dari Mesir menyebar pula ke Ethiopia. Sesudah itu
selama beberapa abad kekuasaan agama ini semakin kuat juga. Semua yang berada di
bawah panji Kerajaan Rumawi dan yang ingin mengadakan persahabatan dan hubungan
baik dengan Kerajaan ini, berada di bawah panji agama Masehi itu.
Berhadapan dengan agama Masehi yang tersebar di bawah panji dan pengaruh Rumawi
itu berdiri pula kekuasaan agama Majusi di Persia yang mendapat dukungan moril di
Timur Jauh dan di India. Selama beberapa abad itu Asiria dan Mesir yang membentang
sepanjang Funisia, telah merintangi terjadinya suatu pertarungan langsung antara
kepercayaan dan peradaban Barat dengan Timur. Tetapi dengan masuknya Mesir dan
Funisia ke dalam lingkungan Masehi telah pula menghilangkan rintangan itu. Paham
Masehi di Barat dan Majusi di Timur sekarang sudah berhadap-hadapan muka. Selama
beberapa abad berturut-turut, baik Barat maupun Timur, dengan hendak menghormati
agamanya masing-masing, yang sedianya berhadapan dengan rintangan alam, kini telah
berhadapan dengan rintangan moril, masing-masing merasa perlu dengan sekuat tenaga
berusaha mempertahankan kepercayaannya, dan satu sama lain tidak saling
mempengaruhi kepercayaan atau peradabannya, sekalipun peperangan antara mereka itu
berlangsung terus-menerus sampai sekian lama.
Bizantium Pewaris Rumawi
Akan tetapi, sekalipun Persia telah dapat mengalahkan Rumawi dan dapat menguasai
Syam dan Mesir dan sudah sampai pula di ambang pintu Bizantium, namun tak terpikir
oleh raja-raja Persia akan menyebarkan agama Majusi atau menggantikan tempat agama
Nasrani. Bahkan pihak yang kini berkuasa itu malahan menghormati kepercayaan orang
yang dikuasainya. Rumah-rumah ibadat mereka yang sudah hancur akibat perang
dibantu pula membangun kembali dan dibiarkan mereka bebas menjalankan upacaraupacara
keagamaannya. Satu-satunya yang diperbuat pihak Persia dalam hal ini
hanyalah mengambil Salib Besar dan dibawanya ke negerinya. Bilamana kelak
kemenangan itu berganti berada di pihak Rumawi, Salib itupun diambilnya kembali
dari tangan Persia. Dengan demikian peperangan rohani di Barat itu tetap di Barat
dan di Timur tetap di Timur. Dengan demikian rintangan moril tadi sama pula dengan
rintangan alam dan kedua kekuatan itu dari segi rohani tidak saling berbenturan.
Keadaan serupa itu berlangsung terus sampai abad keenam. Dalam pada itu
pertentangan antara Rumawi dengan Bizantium makin meruncing. Pihak Rumawi, yang
benderanya berkibar di benua Eropa sampai ke Gaul dan Kelt di Inggris selama
beberapa generasi dan selama zaman Julius Caesar yang dibanggakan dunia dan tetap
dibanggakan, kemegahannya itu berangsur-angsur telah mulai surut, sampai akhirnya
Bizantium memisahkan diri dengan kekuasaan sendiri pula, sebagai ahliwaris
Kerajaan Rumawi yang menguasai dunia itu. Puncak keruntuhan Kerajaan Rumawi ialah
tatkala pasukan Vandal yang buas itu datang menyerbunya dan mengambil kekuasaan
pemerintahan di tangannya. Peristiwa ini telah menimbulkan bekas yang dalam pada
agama Masehi yang tumbuh dalam pangkuan Kerajaan Rumawi. Mereka yang sudah beriman
kepada Isa itu telah mengalami pengorbanan-pengorbanan besar, berada dalam
ketakutan di bawah kekuasaan Vandal itu.
Sekta-sekta Kristen dan Pertentangannya
Mazhab-mazhab agama Masehi ini mulai pecah-belah. Dari zaman ke zaman mazhabmazhab
itu telah terbagi-bagi ke dalam sekta-sekta dan golongan-golongan. Setiap
golongan mempunyai pandangan dan dasar-dasar agama sendiri yang bertentangan
dengan golongan lainnya. Pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan satu
sama lain karena perbedaan pandangan itu telah mengakibatkan adanya permusuhan
pribadi yang terbawa oleh karena moral dan jiwa yang sudah lemah, sehingga cepat
sekali ia berada dalam ketakutan, mudah terlibat dalam fanatisma yang buta dan
dalam kebekuan. Pada masa-masa itu, di antara golongan-golongan Masehi itu ada
yang mengingkari bahwa Isa mempunyai jasad disamping bayangan yang tampak pada
manusia; ada pula yang mempertautkan secara rohaniah antara jasad dan ruhnya
sedemikian rupa sehingga memerlukan khayal dan pikiran yang begitu rumit untuk
dapat menggambarkannya; dan disamping itu ada pula yang mau menyembah Mariam,
sementara yang lain menolak pendapat bahwa ia tetap perawan sesudah melahirkan
Almasih.
Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar