Categories

Lesson 6

Blog Archive

Follower

Statistik

SEJARAH PANJANG MASJID BAITURRAHMAN BANDA ACEH


Pahit getirnya rakyat Aceh melawan Belanda, pergolakan pasca kemerdekaan, gempa dan tsunami, hingga perjanjian damai GAM–RI adalah bagian dari masjid yang didirikan Sultan Iskandar Muda (1607–1636) ini.
Berkunjung ke negeri Serambi Makkah merupakan wisata yang menawan hati. Apalagi kondisinya saat ini sudah kondusif, berbeda dibandingkan masa konflik atau pasca tsunami, 26 Desember 2004. Saat ini Aceh sudah siap dikunjungi oleh siapa pun. Panorama dan keindahannya setelah masa rekonstruksi menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung, terutama Masjid Baiturrahman yang berada di jantung Kota Banda Aceh.
Belum lengkap rasanya, mengunjungi Aceh jika tak menyempatkan diri shalat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang jadi kebanggaan orang Aceh ini, arsitekturnya bercorak elektik. Rancangannya merupakan gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri. Sehingga, bangunan terlihat unik, megah, dan indah. Siapa arsitek di balik keindahan masjid yang pernah dibakar penjajah Belanda ini? Adalah Kapten de Bruijn, Komandan

Zeni Tempur Angkatan Darat Tentara Kerajaan Belanda. Dalam merancang arsitektur masjid, ia berkonsultasi dengan Snouck Hurgronje, orientalis kepercayaan pemerintah Belanda dan penghulu Masjid Bandung. Masjid ini beberapa kali mengalami pembangunan kembali akibat terbakar atau dibakar Belanda. Jadi, masjid yang berdiri sekarang adalah masjid yang dibangun Belanda, sebagai pengganti dari masjid raya yang telah mereka bakar dalam peperangan menaklukkan Aceh.
Masjid ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Masjid ini terbakar pada masa pemerintahan Sultan Nurul Alam (1675-1678 M). Selanjutnya, pembangunan kembali dilakukan pada 9 Oktober 1879 M oleh Tengku Malikul Adil, disaksikan Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh, G J van der Heijden. Pembangunan selesai dan resmi dibuka pada 27 Desember 1881 M.
Saat ini, dengan berlakunya syariat Islam, kawasan Masjid Baiturahman dinyatakan sebagai area terbatas. Hanya pengunjung yang menutup aurat, sesuai hukum syariat, yang boleh masuk halaman masjid. Tapi karena daya tarik dan keindahannya, pengunjung rela mematuhinya asal bisa melihat magnet Aceh ini dari dekat. Halaman masjid kerap menjadi tempat deklarasi berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat. Posisinya yang tepat di tengah lapangan terbuka, membuat masjid ini terlihat jelas dari kejauhan sehingga menjadi magnet bagi siapa pun yang mengunjunginya. Ketika senja menjelang, panorama kian eksotik. Siluet di ufuk barat memberi pesona tiada tara di atas rumah Allah ini. Apalagi, jika pengunjung menaiki menara yang berdiri tegak di halaman depan masjid. Dari puncak menara ini, kita bisa puas menikmati keindahan Kota Banda Aceh.
Menara yang disebut Menara Modal, merupakan monumen yang dibangun pemerintah pusat untuk mengenang pengorbanan dan andil besar rakyat Aceh bagi berdirinya NKRI. Menara ini terdiri dari enam lantai yang bisa dicapai melalui lift dan tangga. Dari puncak menara ini dapat dilihat pemandangan Kota Banda Aceh dan sekitarnya. Kota ini tampak damai dikelilingi Pegunungan Bukit Barisan dengan puncaknya yang disebut Gunung Seulawah Agam. Selain itu, tampak juga hijaunya Selat Malaka yang membentang luas.
Jika kita menyusuri semua sudut masjid, kita akan menjumpai gerbang sebagai pintu utama. Posisinya menempel dengan bangunan utama. Setelah itu terdapat porch berbentuk segi empat yang memanjang. Bagian depan, kiri, dan kanan porch dikelilingi tangga yang membentuk huruf U. Pada ujung tangga depan, terdapat tiga jendela tanpa pintu yang dibentuk oleh empat tiang berbentuk silindris dengan gaya arsitektur Moorish. Arsitektur ini, banyak dijumpai pada masjid-masjid di Afrika Utara dan Spanyol. Antar tiang dihubungkan dengan plengkung patah model Persia.
Di masjid ini terdapat empat tiang dan tiga plengkung. Pada bagian atas dan sisi plengkung dihiasi relief lengkung-lengkung seperti corak Arabesque. Di atas ketiga plengkung, terdapat semacam tympanum berbentuk jenjang seperti penampang tangga. Ini merupakan model khas rumah klasik di Belanda. Pada tiap jenjang dihias dengan miniatur gardu atau cungkup, yang dihiasi kubah bawang pada puncaknya. Corak ini menunjukkan pengaruh India. Jadi, bagian luarnya saja sudah jelas nuansa ekletik masjid ini. Sisi kiri dan kanan porch punya dua tiang yang dihubungkan pada satu plengkung. Dekorasinya sama dengan porch bagian depan.
Setelah melewati porch, pengunjung menuju ke ruang utama masjid yang digunakan untuk shalat. Untuk sampai di ruang utama ini, pengunjung harus melewati plengkung dan tiang yang sama dengan di depan. Plengkung tanpa pintu ini, arsitekturnya seperti masjid-masjid kuno di India. Bagian tengah ruang shalat berbentuk bujur sangkar, beratap kubah utama yang indah dan megah bercorak bawang. Puncuknya dihiasi cunduk seperti masjid-masjid kuno di India.
Penyangga kubah berdenah segi delapan. Pada masing-masing sisinya, terdapat sepasang jendela dengan ambang plengkung patah. Pada bagian bawah terdapat tritisan berdenah segi delapan. Bagian kiri dan kanan ruang utama ini, terdapat unit sayap kembar sehingga bangunan ini menjadi simetris. Atap masjid berbentuk limas berlapis dua. Jendelanya bermodel Moorish, terutama dari hiasan yang bercorak
intricate.
Antara tahun 1935 dan 1936 M masjid ini mengalami renovasi. Sayap kiri dan kanan atapnya ditambah kubah sehingga jumlahnya menjadi tiga. Pada tahun 1957, ada penambahan dua unit kubah kembar. Posisinya di ujung kiri (utara) dan kanan (selatan) dari sayap. Dengan penambahan ini, jumlah kubah menjadi lima. Tapi, dilihat dari depan, konstruksi masjid masih tetap simetris.
Selain itu, ada juga dua buah minaret pada sudut barat-utara dan barat-selatan. Penampang minaret bersegi delapan, dengan bentuk atap sama dengan kubah utama. Penambahan ini tetap mengacu pada elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya sehingga keaslian masjid tetap terjaga. Akhir 1980-an, masjid direnovasi lagi.
Bencana gempa dan tsunami, 26 Desember 2004, sempat membuat beberapa sudut masjid mengalami kerusakan. Meski tak parah, setahun setelah tsunami, masjid kembali direnovasi termasuk menata ulang halaman masjid yang porak poranda akibat tsunami. Ketika bencana terjadi, masjid ini menjadi salah satu tempat berlindung warga kota. Ribuan nyawa selamat saat berlindung di masjid ini. Masjid Baiturrahman tetap tegak berdiri ketika gempa mengguncang Aceh, sementara bangunan lain dan kawasan pemukiman di sekitarnya banyak yang ambruk.
Pasca tsunami dan ditandatanganinya perdamaian antara pemerintah dengan GAM, masjid ini kembali menjadi bagian dari sejarah itu. Dari masjid inilah, warga kota menggelar doa khusus ketika delegasi Indonesia bertemu dengan wakil GAM di Helsinki, Finlandia. Masjid ini juga yang menjadi saksi ketika pasca perjanjian damai, Aceh menggelar pemilihan kepala daerah secara langsung. Tes kemampuan membaca al-Qur’an bagi calon Gubernur juga digelar di masjid ini.
Saat renovasi pasca tsunami, sebagian dilakukan melalui sumbangan masyarakat. Perbaikan besar-besaran dilakukan setelah ada sumbangan lembaga donor diantaranya, Saudi Charity Campaign. Total dana untuk renovasi masjid pasca tsunami mencapai Rp 20 miliar. Pada 15 Januari 2008, proses perbaikan resmi selesai. Kini, masjid bersejarah ini seolah-olah habis bersolek, tampil cantik menawan.
Tak hanya cantik fisik. Saat ini, masjid juga menjadi pusat kegiatan keislaman di Serambi Makkah. Sejak 2007, tiap Sabtu awal bulan rutin diadakan pengajian tingkat tinggi untuk para pejabat pemerintahan provinsi. Ada juga pengajian untuk masyarakat umum, kajian al-Qur’an, hadits, dan lainnya. Untuk memaksimalkan fungsi masjid sebagai sarana dakwah, masjid ini juga memiliki stasiun radio. Warga Kota Banda Aceh, Aceh Besar hingga Sabang bisa mengakses semua acara di masjid, yang disiarkan langsung melalui Radio Baiturrahman 1198 khz. Radio ini dipancarkan dari menara selatan masjid.
Sungguh, tak cukup rasanya halaman untuk menceritakan keindahan dan nilai sejarah masjid ini. Masjid ini adalah monumen keperkasaan pejuang muslim Aceh. Maka, belum ke Aceh bila belum shalat di Baiturrahman. (Ardan)
Category: 0 komentar

0 komentar:

Poskan Komentar