Categories

Lesson 6

Blog Archive

Follower

Statistik

SEJARAH KEHADIRAN GEREJA DI INDONESIA


Sejarah Keberadaan Gereja Di Indonesia

Pertemuan Injil dengan Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan perjalanan Injil itu sendiri. Hal ini tampak dalam perjalanan Injil dari Yerusalem, Yudea, dan Samaria sampai ke ujung bumi. Pada satu pihak ada perjalanan Injil ke arah barat dan juga perjalanan Injil ke arah Timur. Awal dari perjalanan Injil ke arah barat itu dapat ditelusuri dalam kitab Kisah Para Rasul. Sedangkan Perjalanan Injil ke arah timur tidak tercatat dalam Alkitab dan hanya diketahui lewat sejarah saja, meskipun catatan-catatan sejarah mengenai perjalanan Injil ke arah timur ini pun sangat sedikit. Ditambah lagi pula hasil perjalanan Injil ke arah timur kemudian hampir lenyap. Oleh sebab itu, perjalanan Injil ke arah timur ini hampir tidak diketahui dan hampir tidak dikenal di Indonesia.
Salah satu gereja yang terpenting sebagai hasil dari perjalanan Injil ke arah timur ini ialah Gereja Nestoriah. Gereja Nestoriah itu lama berpusat di Baghdad. Dari abad ke-6 sampai abad ke-13 Gereja Nestoriah telah menjalankan pekabaran Injil yang sangat luas sampai ke India dan Cina. Para penginjil dari Gereja Nestoriah itulah yang menerjemahkan Alkitab untuk pertama kali dalam bahasa Cina. Dalam suatu buku dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Shaykh Abu Salih al-Armini dikatakan bahwa di Fansur (Barus), di pantai Barat Tapanuli, terdapat banyak Gereja Nestoriah. Ada petunjuk-petunjuk bahwa kaum Nestoriah telah hadir di Barus sejak tahun 645.

Dalam abad ke-14 dan ke-15 Gereja Nestoriah itu praktis lenyap, walaupun sampai sekarang masih ada sisa-sisanya di Iran dan Irak. Gereja Nestoriah di Barus telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Para penginjil dari Gereja Nestoriah tidak pernah menerjemahkan Alkitab ke bahasa Melayu, yang pada abad ke-7 telah luas tersebar di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian kita lihat bahwa Injil telah tiba di Indonesia untuk pertama kali dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke arah timur, lama sebelum Islam tiba di Indonesia. Tetapi kedatangan pertama Injil di Indonesia itu tidak meninggalkan bekas. Injil telah datang untuk kedua kali di Indonesia melalui jalan yang panjang, yaitu dari Yerusalem ke arah barat, ke Eropa, dan baru pada abad ke-16 Injil kembali ke Indonesia dari Eropa bersamaan waktu dengan kedatangan orang-orang Portugis, yang kemudian disusul oleh kedatangan orang-orang Belanda pada abad ke-17.
Dalam hubungan itu baiklah kita baca Kisah Para Rasul 16:8-10. Di situ kita baca bahwa Rasul Paulus tidak memunyai rencana untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa, yaitu ke Makedonia. Membawa Injil dari Asia ke Eropa bukan strategi Paulus, melainkan strategi Roh Yesus sendiri (Kisah Para Rasul 16:8). Sejarah dunia dan sejarah gereja akan lain sama sekali andaikata Injil tidak dibawa dari Asia ke Eropa, artinya ke dunia Barat. Pada waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesia telah memunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang "kosong" dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa "lapisan" dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.
Dari keterangan di atas kemudian dapat ditelusuri bahwa pada umumnya masyarakat Indonesia termasuk para sejarawannya, demikian pula dengan gereja ber­pendapat bahwa Injil baru masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan bangsa Portugis di awal abad ke-16. Bagi kalangan Kristen Protestan hal ini diperkuat dengan tulisan DR. Th. Malin Krueger dalam buku standar tentang Sejarah Gereja di Indonesia, yang mengatakan bahwa tidak didapati sedikit pun bekas Pekabaran Injil di Indonesia, dan tidak terdapat seorang Kristen pun di Indonesia sebelum kedatangan bangsa Portugis sebab merekalah yang pertama-tama menyiarkan Agama Kristen di Indonesia.

Meskipun penelitian yang lebih seksama dengan menggunakan sumber-sumber tulisan yang lebih kuno di Timur Tengah, membuktikan hal yang sebaliknya. Bermula dengan memuncaknya pertentangan antara Gereja Barat dengan Gereja Timur yang berakibat terpisahnya gereja, maka Gereja Timur berdiri sendiri dengan pimpinannya seorang uskup di Persia dengan memakai gelar Ketholikos, di tahun 410.Gereja ini kemudian dikenal sebagai Gereja Khaldea, atau Gereja Syria Timur. Gereja ini adalah pengikut ajaran Nestorius, sehingga juga dikenal sebagai gereja Nestorian (Nestorian, Nusthuri/Nasathariah). Sampai sekitar abad ke-13, pusat gereja ini berkedudukan di Baghdad dan wilayah wewenang pelayanannya meliputi Cyprus, Irak, Iran, Manchuria, Mongolia, India, Sri Lanka, Sumatera dan Jawa.
Dalam sebuah naskah kuno tulisan Shaykh Abu Salih al-Armini, terdapat daftar dari 707 gereja dan 181 biara yang tersebar dimana-mana, yang termasuk dalam wilayah pelayanan provinsi Mesir, di antaranya termasuk Indonesia. Dalam naskah itu disebut Fansur yang disebut terdapat banyak gereja dan biara. Fansur atau Pancur adalah kota pelabuhan di Sumatera Utara, yang terletak di dekat kota Barus yang waktu itu sangat ramai sebagai kota pelabuhan perdagangan kapur barus, hal ini dicatat di sekitar abad ke 7. Berita kemudian yang masih menyebut adanya gereja di Sumatera ditulis oleh Metropolit Gereja Suriah Timur yang bertugas antara tahun 1291-1319, yang mencantumkan keuskupan agung Dabhagh (Sumatera).
Sumber lain yang menyebut masih adanya gereja dan orang Kristen di Indonesia, adalah catatan perjalanan Uskup Joa de Marignoli OFM, Duta Besar Paus Clemens VI di Peking, yang pernah berkunjung ke Sumatera (Kerajaan Sriwijaya) dan masih sempat melayani orang-orang Kristen di sana pada tahun 1346. Hingga akhirnya jejak dari masa kekristenan pada awal masuk ke Indonesia hilang dan tidak lagi diketahui proses perkembangannya. Apa yang terjadi dengan orang Kristen masa itu masih belum jelas, namun suatu penggalian yang diadakan di tahun 1610 di Malaka, menemukan puing-puing gereja dengan hiasan salib bergaya Khaldea.
Di Abad XVI terjadi perubahan besar di dunia politik dan perdagangan yang ditandai dengan ditemukannya jalan laut ke Asia oleh Eropa. Dimulailah perjalanan ekspedisi besar-besaran yang ditandai dengan berhasilnya Portugis merebut Malaka di tahun 1511, sebuah kota yang menjadi pusat per­dagangan di Nusantara. Dari sini mereka mengirim armadanya dan berhasil menguasai wilayah Maluku, sumber rempah-rempah sebagai komoditi perdagangan yang bernilai jual tinggi waktu itu. Sementara itu Kerajaan Majapahit mulai kehilangan kekuasaannya. Kerajaan-kerajaan pantai di Sumatera mulai menyatakan diri berdiri sendiri, juga di Jawa, kerajaan-kerajaan terutama di kota-kota pelabuhan semakin berani untuk melepaskan diri dari Majapahit. Perkembangan ini berjalan seiring dengan semakin luasnya pengaruh Islam yang berkembang dengan pesat pada abad ke-15 hingga ke-16.
Terkait dengan penyebaran Agama Katolik dimulai bersamaan dengan datangnya bangsa portugis setelah berhasil menguasai Malaka yang waktu itu memegang peranan penting perdagangan, yang kemudian dijadikan pusat kegiatan misi. Pada tahun 1555 diresmikanlah keuskupan Malaka yang mencakup Indonesia. Penyebaran Agama Katolik ter­utama di kalangan rakyat yang menganut kepercayaan lama. Sesuai dengan prinsip Kerajaan Ka­tolik waktu itu, maka pekerjaan misi didukung dan dibiayai sepenuhnya oleh Negara dimana hal ini dipercayakan oleh Paus kepada Raja. Namun, di tahap pertama ini tidak nampak pekerjaan misi yang cukup terarah, karena terlalu tergantung pada perkembangan penguasa Portugis. Pekerjaan misi yang sungguh baru terjadi adalah dengan kedatangan Fransiskus Xaverius di tahun 1546 sampai 1547. Sehingga pekerjaan misi kemudian mencapai Sulawesi Utara, beberapa tempat di Jawa khususnya di daerah yang masih ada pengaruh Hindu, dan Kalimantan.
Peristiwa penting dalam sejarah politik di Asia Tenggara pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 adalah terjadinya peralihan kekuasaan kolonial, dari Portugis kepada pihak Belanda.[8] Tujuannya tetap sama untuk menguasai daerah sumber bahan perdagangan. Sebab itu penguasaan daerah jajahan itu dilaksanakan melalui suatu badan perdagangan yang di­sebut VOC (Verenigde Osstindiesche Compagnie), yang mendapat hak monopoli dari pe­merintahnya di negeri Belanda, termasuk hak memiliki tentara sendiri, mencetak uang sendi­ri, mengambil keputusan untuk berperang serta mengadakan perjanjian.
Pada mulanya VOC hanya memerlukan pelayanan rohani untuk melayani orang-­orang mereka sendiri. Kemudian mereka diperhadapkan dengan soal baru, setelah melihat bahwa ada orang-orang Kristen Indonesia peninggalan Misi Katolik. Jumlah orang Katolik di Maluku, Sulawesi Utara, Pulau Siau dan Sangir disebut sekitar 40.000 jiwa. Menurut pemikiran waktu itu, maka adalah hak dan kewajiban VOC untuk membuat orang Katolik itu menjadi Protestan, sesuai dengan agama yang dianut oleh penguasa. Tentu ada juga latar belakang politik, sebab VOC khawatir jika mereka tetap dibiarkan Katolik sekali waktu mereka dapat mengundang lagi Portugis atau Spanyol. Selanjutnya antara tahun 1708-1771 (selama 63 tahun), jumlah orang Indonesia yang dibaptis ber­jumlah 43.748 jiwa, di antaranya hanya 1.205 yang boleh ikut perayaan Perjamuan Kudus. Maka, bila diperhitungkan jumlah orang Katolik yang ditinggalkan oleh Misi Portugis se­banyak 40.000 jiwa, maka pada dasarnya di masa VOC dapat dikatakan gereja sama sekali tidak berkembang secara signifikan dan berarti.
Babak berikut yang sangat berarti dalam sejarah penyebaran Injil di Indonesia adalah dengan berakhirnya keberadaan VOC setelah berkuasa selama 200 tahun tepatnya pada 1799. Pemerintah Belanda yang akhirnya melanjutkan penguasaannya di Indonesia, namun tidak melihat dirinya sebagai “penguasa Kristen”, melainkan suatu pemerintah sekuler. Terhadap masalah keagamaan, pemerintah Belanda bersikap netral. Di bawah Gubernur Jenderal Daendels, diproklamasikanlah kebebasan agama yang berarti juga berakhirnya monopoli Kristen Calvinis, dan kebebasan bagi Gereja Lutheran. Sedangkan Katolik mendapat ijin kembali untuk mengadakan pekerjaan misi dan mendatangkan Imam ke Indonesia. Begitu juga dengan Islam secara resmi disokong untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekkah sebagai salah satu wujud hukum Islam yang harus dipenuhi, Lembaga-lembaga Pekabaran Injil diperbolehkan secara bebas masuk ke Indonesia. 

0 komentar:

Poskan Komentar