Categories

Lesson 6

Blog Archive

Follower

Statistik

Get Gifs at CodemySpace.com

Siraman Rohani Agama Islam


Melatih Anak Berpuasa
Alhamdulillah, segala puji hanya kepada Allah SWT. Kita bersyukur hingga hari ini diberi
kekuatan dan kesempatan untuk menjalani hari-hari Ramadhan dengan penuh amal kebaikan.
Sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW nabi junjungan kita semua, yang mengisi Ramadhan
dengan sepenuh amal yang berkah. Memberikan contoh kepada kita beragam amal yang
disyariatkan dalam Ramadhan yang mulia. Semoga kita mampu meniru dan menjalankannya.
Jamaah sholat tarawih yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala ..
Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin membahas tentang puasa Ramadhan dan anakanak
kita. Sebuah gambaran yang unik seringkali ditemui di jalan-jalan dan sekolahan. Kita
melihat anak usia sepuluh tahunan, atau bahkan lebih dari itu yang dengan ringan menikmati
makanan dan minuman yang segar di siang hari Ramadhan. Tentu kita bertanya-tanya dalam

hati, apakah yang membuat sang anak tersebut tidak berpuasa di hari-hari Ramadhan ini ?.
Seandainya saja karena sakit dan kondisi fisik yang lemah, tentulah kita tidak akan
mempermasalahkannya.Karena jangankan anak kecil, orang dewasa yang sakitpun dibolehkan
untuk berbuka oleh syariat Islam yang indah dan manusiawi. Maka pertanyaan selanjutnya
adalah, apakah anak tersebut tidak pernah dilatih dan diperintahkan berpuasa oleh orang tua
mereka ? Inilah yang akan sedikit kita bahas dan renungkan pada kesempatan kali ini.
Bagaimana sesungguhnya Islam memberikan pandangan seputar anak-anak dan puasa
Ramadhan.
Jamaah sholat tarawih yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala ..
Mungkin ada sebagian orang tua yang akan dengan mudah beralasan bahwa syariat Islam tidak
mewajibkan anak-anak untuk berpuasa, sehingga tidak perlu tergesa-gesa menyuruh mereka
berpuasa sebelum waktunya atau sampai usia baligh. Alasan ini memang terlihat benar pada
satu sisi, karena tidak ada kewajiban ibadah apapun –begitu pula puasa Ramadhan- kepada
mereka yang belum baligh atau bermimpi basah. Rasulullah SAW bersabda :

Diangkat pena catatan amal dari tiga orang : orang gila yang hilang akalnya sampai sadar
kembali, orang tidur sampai ia bangun, dan anak kecil sampai ia bermimpi (baligh) “ (HR Abu
Daud)
Lalu apakah kemudian kita berdiam diri tidak mengenalkan dan melatih anak kita berpuasa
hingga waktunya tiba ? . Tidak dan sekali-kali tidak. Ibadah dijalankan dengan ringan karena ada
latihan dan pembiasaan. Begitu pula dan apalagi ibadah puasa yang sangat dominan sisi fisiknya.
Jika tidak dibiasakan sejak dini, maka penundaan dari tahun ke tahun hanyalah mengakibatkan
kesulitan yang bertambah-tambah. Pepatah hikmah mengatakan dengan indahnya, bahwa
mendidik anak saat kecil bagaikan mengukir di atas batu. Susah memang tapi masih
memungkinkan untuk dilakukan. Sedangkan mendidik orang tua bagaikan mengukir di atas air,
hampir-hampir tidak pernah kita bayangkan bagaimana melakukannya.
Jamaah sekalian yang dirahmati oleh Allah SWT
Rasa-rasanya tidak berlebihan jika kita mengatakan, bahwa anak-anak memang belum wajib
untuk berpuasa, tapi sungguh para orang tua mempunyai kewajiban untuk mulai mengenalkan
dan melatih anak-anaknya berpuasa. Kewajiban ini sudah diisyaratkan begitu jelas dalam Al-
Quran, sebagai panduan bagi orang tua untuk melakukan langkah-langkah yang jelas dalam
mengarahkan anaknya dalam beribadah. Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka “(QS At-Tahrim : 6). Setiap orang tua yang
mentadabburi dan memahami ayat ini tentulah segera tergerak dan merasa bertanggung jawab
untuk mengenalkan ibadah puasa kepada anak-anaknya.
Kita juga mempunyai contoh teladan dari Rasulullah yang mulia dalam masalah ini. Bukan hanya
dalam masalah ibadah, bahkan dalam masalah etika dan akhlak pun beliau telah mengajarkan
kepada anak-anak yang belia, tanpa memandang usia apalagi baligh tidaknya. Dalam suatu
kesempatan makan bersama anak kecil, beliau mengajarkan kepada seorang anak tentang
bagaimana adab makan. Beliau bersabda : ““Wahai anakku, sebutlah nama Allah , makanlah
dengan tangan kanan, dan makanlah yang dekat terlebih dahulu (HR Muslim). Hadits diatas
menunjukkan bagaimana urgensinya memulai mengenalkan kebaikan sejak kecil.
Jamaah sholat tarawih yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala ..
Lalu bagaimanakah cara kita untuk mengenalkan dan melatih anak-anak kita berpuasa ?
Setidaknya ada lima hal yang perlu kita cermati dalam masalah ini. Semoga kita bisa
menjalankannya dengan baik dan istiqomah.
Pertama : Memberikan pemahaman ringan seputar Puasa dan Urgensinya
Sungguh anak kecil usia tujuh tahun bahkan kurang, pada saat ini telah mampu dengan mudah
untuk diajak dialog. Semakin ia mengetahui alasan dan pentingnya berpuasa, maka akan
semakin mudah melatihnya berpuasa. Anak-anak kita pun akan menjalankannya dengan lebih
ringan saat meyakini apa yang dilakukannya berpahala. Saya jadi ingat lirik lagu Bimbo seputar
16
anak-anak dan puasa, tentu kita semua masih mengingatnya dengan baik setiap Ramadhan
hadir. “ Ada anak bertanya pada bapaknya .. buat apa berlapar-lapar puasa ? “. Dijawab oleh
sang ayah : “ lapar mengajarkan rendah diri selalu .. “. Demikian seterusnya, kita bisa
membahasakan urgensi puasa dalam ungkapan yang menggugah anak-anak kita dalam
berpuasa.
Kedua : Memberikan Motivasi
Motivasi disini memang sangat unik jika terkait dengan anak-anak. Kebiasaan yang berlaku di
sekitar kita adalah memberikan hadiah kepad a mereka yang bisa menuntaskan puasanya
dengan sempurnya. Maka jumlah hadiah disesuaikan dengan jumlah hari mereka berpuasa.
Kebiasaan ini tidak sepenuhnya salah, namun motivasi disini tidak harus berupa barang dan
materi yang itu-itu saja. Mungkin saja kita bisa arahkan ke hadiah yang lebih baik dari itu semua,
misalnya diberikan uang untuk bersedekah, uang untuk membeli buku, uang untuk infaq
palestina. Jadi pada satu sisi kita memotivasi, sisi yang lain juga mengarahkan kemana sebaiknya
hadiah tersebut digunakan. Ini hanya sekedar contoh ringan, saya yakin bapak dan ibu sekalian
lebih tahu hadiah yang terbaik buat anak-anaknya.
Ketiga : Persiapan Puasa yang Matang
Anak-anak kita dalam masa pertumbuhan yang sangat sensitif, mereka membutuhkan asupan
gizi yang cukup. Jangan jadikan puasa sebagai hal yang membuat mereka kekurangan gizi dan
menjadi lemah. Karenanya para orangtua hendaknya berlaku serius dalam mempersiapkan
hidangan sahur bagi putra-putrinya.Pastikan bahwa mereka akan mampu menjalaninya dengan
baik,karena kita telah menghidangkan modal yang cukup saat sahur dan berbuka.
Jamaah sholat tarawih yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala ..
Langkah yang keempat adalah : Membuat Kesibukan yang Menyenangkan
Berpuasa seharian bagi sebagian besar anak kecil adalah sesuatu yang berat dan sangat
menyiksa diri. Kita tidak bisa membiarkan mereka larut dalam kondisi sedemikian. Karenanya
perlu dilakukan langkah dan upaya untuk menyibukkan mereka agar lalai dari rasa lapar dan
dahaga. Inspirasi semacam ini bisa kita dapatkan dari bagaimana cara sahabat mendidik anakanaknya
untuk berpuasa. Sebuah riwayat shohih dari Rubayyi binti Muawidz, ia berkata:” Di
pagi Asyura’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke kampung-kampung
Anshar :” Siapa yang pagi ini dalam keadaan puasa maka sempurnakanlah puasanya, dan
barangsiapa yang pagi ini dalam keadaan tidak berpuasa, maka berpuasalah pada sisa hari ini.
Dan kamipun melakukan puasa Asyura’. Sebagaimana kami menyuruh puasa anak-anak kecil
kami, dan kami beserta putra-putra kami berangkat ke masjid dengan menjadikan mainan dari
kapas buat mereka, jika ada salah seorang dari mereka menangis minta makanan, kami berikan
mainan itu kepadanya sampai masuk waktu berbuka” (HR Bukhari dan Muslim)
Jamaah sholat tarawih yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala ..
17
Yang terakhir tentu saja kita harus meyakini pentingnya : Bertahap dalam Latihan berpuasa.
Rasulullah SAW telah memberikan panduannya saat memerintahkan kita untuk mengajarkan
anak kita melakukan ibadah sholat . Beliau bersabda dari lisannya yang mulia :

“perintahkanlah anak-anakmu untuk sholat saat usia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika
tidak mengerjakannya) saat usia sepuluh tahun “ (HR Abu Daud)
Maka hendaknya latihan puasa dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan, dari
tahun ke tahun ditargetkan ada peningkatan. Karenanya memulai sejak usia dini merupakan
salah satu langkah sukses menuju tahapan-tahapan selanjutnya. Kebiasaan masyarakat kita yang
mengistilahkan “ puasa sambung “ dan “puasa mbedhug” atau berbuka saat dhuhur menjelang
dan melanjutkan puasa setelahnya, ini menunjukkan sebenarnya langkah positif ini sudah dianut
masyarakat kita dalam mengenalkan anak-anaknya berpuasa. Sekarang tinggal kita kembali
menganjurkan kepada mereka yang masih acuh tak acuh dan meremehkan masalah ini, agar
segera tersadar dan bersegera melatih anaknya untuk berpuasa. Semoga Allah SWT
memudahkan niatan dan langkah kita ini. Wallahu a’lam bisshowab
Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar